Posted by:
Sekilas Info
Updated at :
Senin, Mei 23, 2011
Tags:
suara suporter
oleh butterfly.borel@gmail.com Berita ini barangkali sudah tidak up to date lagi, akan tetapi menurut saya, ini merupakan catatan penting ba...
oleh butterfly.borel@gmail.com
Berita ini barangkali sudah tidak up to date lagi, akan tetapi menurut saya, ini merupakan catatan penting bagi persepakbolaan. Juventus berencana meresmikan kandang baru dalam 1-2 tahun mendatang. Di stadion tersebut akan terdapat sebuah monumen yang mirip dengan apa yang dilakukan oleh Hollywood dalam mengenang artis-artis legendarisnya. Sebuah Walk of Fame akan dibangun dengan bertuliskan 50 nama legenda dalam sejarah Juventus. Nama-nama ini merupakan nama yang menjadi penegak pilar kejayaan Juventus sejak awal abad ke-20 sampai dengan awal abad ke-21. Dari mulai Piala Dunia 1934 sampai dengan Piala Dunia 2006. Inilah nama-nama mereka, disusun secara alfabetis:
1. Alessandro Del Piero
2. Alessio Tacchinardi
3. Angelo Di Livio
4. Angelo Peruzzi
5. Antonello Cuccureddu
6. Antonio Cabrini
7. Antonio Conte
8. Carlo Bigatto
9. Carlo Parola
10. Ciro Ferrara
11. Claudio Gentile
12. David Trezeguet
13. Didier Deschamps
14. Dino Zoff
15. Fabio Capello
16. Fabrizio Ravanelli
17. Felice Borel
18. Franco Causio
19. Gaetano Scirea
20. Giampiero Boniperti
21. Giampiero Combi
22. Gianluca Pessotto
23. Gianluca Vialli
24. Gianluigi Buffon
25. Giuseppe Furino
26. John Charles
27. John Hansen
28. Lucidio Sentimenti
29. Luis Del Sol
30. Marco Tardelli
31. Mauro Camoranesi
32. Michel Platini
33. Moreno Torricelli
34. Omar Sivori
35. Paolo Montero
36. Paolo Rossi
37. Pavel Nedved
38. Pietro Anastasi
39. Pietro Rava
40. Raimundo Orsi
41. Roberto Baggio
42. Roberto Bettega
43. Romeo Benetti
44. Sandro Salvadore
45. Sergio Brio
46. Stefano Tacconi
47. Umberto Caligaris
48. Virginio Rosetta
49. Zbigniew Boniek
50. Zinedine Zidane
Bagaimana? Cukup familiar? Memang banyak di antara nama-nama tersebut yang akrab dengan telinga kita, meskipun nama-nama lain yang berasal dari era jauh sebelum kita akan terdengar sedikit ‘aneh’. Inilah cara bagi Juventus untuk menghormati mereka-mereka yang telah berjasa menegakkan panji-panji Juventus sebagai klub tersukses di tanah Italia. Hal inilah yang perlu dicontoh oleh insan persepakbolaan nasional.
Persepakbolaan nasional kita memiliki sejarah yang cukup hebat di tingkat Asia. Indonesia, ketika masih bernama Hindia Belanda adalah negara Asia pertama yang berpartisipasi di Piala Dunia. Ketika itu tahun 1938, kita mengikuti Piala Dunia ketiga di Perancis. Italia keluar sebagai juara, sementara kita langsung disikat Hungaria 0-6 di pertandingan pertama. Meski begitu, prestasi yang diraih Sutan Anwar dkk merupakan catatan sejarah yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Pemain kita pada waktu itu terdiri dari campuran pribumi, keturunan Tionghoa, dan Indo-Belanda.
Kemudian, di tahun-tahun pasca-kemerdekaan, tentu kita semua ingat cerita mengenai Indonesia yang mampu menahan imbang Uni Soviet. Uni Soviet pada waktu itu merupakan juara Eropa 1960 dan masih diperkuat Lev Yashin, kiper paling legendaris sepanjang masa. Kemudian, Indonesia juga sempat memiliki prestasi lolos ke Olimpiade 1956 di Melbourne, Australia. Selanjutnya di tahun 1962, saat dihelat Asian Games di Jakarta, Indonesia meraih posisi ketiga di cabang olahraga sepakbola. Sayangnya, hasil Asian Games tersebut tidak dicatat oleh IOC (Komite Olimpiade Internasional) karena kita tidak mengundang Taiwan dan Israel.
Dari pencapaian-pencapaian di masa lalu tersebut, Indonesia sejatinya juga memiliki banyak aktor penting yang layak diberi penghormatan setinggi-tingginya. Kita bisa menyebut nama mulai dari era Sutan Anwar dan Isaak Pattiwael, Anjas Asmara dan Andi Lala, Iswadi Idris dan Ronny Pattinasarani, Aji Santoso dan Ricky Yakobi, sampai dengan era Bambang Pamungkas dan Boaz Solossa. Mereka adalah nama-nama yang mewakili Indonesia di pentas internasional. Terlepas dari berhasil tidaknya mereka membawa Indonesia kepada kemenangan, mereka adalah penegak panji Merah-Putih di pentas olahraga internasional, walau hanya tingkat ASEAN sekalipun.
Rasa hormat itu seharusnya tidak pernah hilang. Bung Karno dahulu terkenal dengan slogan Jas Merah, Jangan Sekali-Sekali Melupakan Sejarah. Barangkali inilah yang gagal diterapkan oleh bangsa Indonesia. Inspirasi yang seharusnya bisa diperoleh dari para pendahulu tidak pernah sampai ke tangan generasi muda. Kita tidak dapat melihat monumen-monumen tempat bersemayamnya semangat yang dahulu begitu berkobar dipancarkan oleh para pendahulu kita di bidang sepakbola. Bahkan, salah satu monumen sejarah sepakbola kita, Stadion Menteng kini sudah diruntuhkan dan digantikan oleh taman kota yang tidak jelas juntrungannya. Inilah bangsa Indonesia. Bangsa yang seharusnya berterimakasih kepada jasa para pahlawannya, justru tidak pernah sekalipun mencoba mengingat siapa nama pahlawannya dan apa saja jasa-jasanya. Mengingat jasa pahlawan barangkali terdengar klise, tetapi mengingat jasa pahlawan itu tidak sesederhana itu. Mengingat jasa pahlawan berarti meresapi betul-betul semangat yang dikobarkan para pahlawan dan menerapkannya dalam kehidupan.
Yah, saya bangga menjadi orang Indonesia. Saya bangga melihat nama Hindia Belanda dalam sejarah persepakbolaan dunia sempat tercatat. Saya bangga kita pernah berlaga di Olimpiade. Saya bangga kita pernah menahan imbang Uni Soviet. Dan saya bangga atas semua jasa pahlawan sepakbola kita.
Salam Olahraga!
Berita ini barangkali sudah tidak up to date lagi, akan tetapi menurut saya, ini merupakan catatan penting bagi persepakbolaan. Juventus berencana meresmikan kandang baru dalam 1-2 tahun mendatang. Di stadion tersebut akan terdapat sebuah monumen yang mirip dengan apa yang dilakukan oleh Hollywood dalam mengenang artis-artis legendarisnya. Sebuah Walk of Fame akan dibangun dengan bertuliskan 50 nama legenda dalam sejarah Juventus. Nama-nama ini merupakan nama yang menjadi penegak pilar kejayaan Juventus sejak awal abad ke-20 sampai dengan awal abad ke-21. Dari mulai Piala Dunia 1934 sampai dengan Piala Dunia 2006. Inilah nama-nama mereka, disusun secara alfabetis:
1. Alessandro Del Piero
2. Alessio Tacchinardi
3. Angelo Di Livio
4. Angelo Peruzzi
5. Antonello Cuccureddu
6. Antonio Cabrini
7. Antonio Conte
8. Carlo Bigatto
9. Carlo Parola
10. Ciro Ferrara
11. Claudio Gentile
12. David Trezeguet
13. Didier Deschamps
14. Dino Zoff
15. Fabio Capello
16. Fabrizio Ravanelli
17. Felice Borel
18. Franco Causio
19. Gaetano Scirea
20. Giampiero Boniperti
21. Giampiero Combi
22. Gianluca Pessotto
23. Gianluca Vialli
24. Gianluigi Buffon
25. Giuseppe Furino
26. John Charles
27. John Hansen
28. Lucidio Sentimenti
29. Luis Del Sol
30. Marco Tardelli
31. Mauro Camoranesi
32. Michel Platini
33. Moreno Torricelli
34. Omar Sivori
35. Paolo Montero
36. Paolo Rossi
37. Pavel Nedved
38. Pietro Anastasi
39. Pietro Rava
40. Raimundo Orsi
41. Roberto Baggio
42. Roberto Bettega
43. Romeo Benetti
44. Sandro Salvadore
45. Sergio Brio
46. Stefano Tacconi
47. Umberto Caligaris
48. Virginio Rosetta
49. Zbigniew Boniek
50. Zinedine Zidane
Bagaimana? Cukup familiar? Memang banyak di antara nama-nama tersebut yang akrab dengan telinga kita, meskipun nama-nama lain yang berasal dari era jauh sebelum kita akan terdengar sedikit ‘aneh’. Inilah cara bagi Juventus untuk menghormati mereka-mereka yang telah berjasa menegakkan panji-panji Juventus sebagai klub tersukses di tanah Italia. Hal inilah yang perlu dicontoh oleh insan persepakbolaan nasional.
Persepakbolaan nasional kita memiliki sejarah yang cukup hebat di tingkat Asia. Indonesia, ketika masih bernama Hindia Belanda adalah negara Asia pertama yang berpartisipasi di Piala Dunia. Ketika itu tahun 1938, kita mengikuti Piala Dunia ketiga di Perancis. Italia keluar sebagai juara, sementara kita langsung disikat Hungaria 0-6 di pertandingan pertama. Meski begitu, prestasi yang diraih Sutan Anwar dkk merupakan catatan sejarah yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Pemain kita pada waktu itu terdiri dari campuran pribumi, keturunan Tionghoa, dan Indo-Belanda.
Kemudian, di tahun-tahun pasca-kemerdekaan, tentu kita semua ingat cerita mengenai Indonesia yang mampu menahan imbang Uni Soviet. Uni Soviet pada waktu itu merupakan juara Eropa 1960 dan masih diperkuat Lev Yashin, kiper paling legendaris sepanjang masa. Kemudian, Indonesia juga sempat memiliki prestasi lolos ke Olimpiade 1956 di Melbourne, Australia. Selanjutnya di tahun 1962, saat dihelat Asian Games di Jakarta, Indonesia meraih posisi ketiga di cabang olahraga sepakbola. Sayangnya, hasil Asian Games tersebut tidak dicatat oleh IOC (Komite Olimpiade Internasional) karena kita tidak mengundang Taiwan dan Israel.
Dari pencapaian-pencapaian di masa lalu tersebut, Indonesia sejatinya juga memiliki banyak aktor penting yang layak diberi penghormatan setinggi-tingginya. Kita bisa menyebut nama mulai dari era Sutan Anwar dan Isaak Pattiwael, Anjas Asmara dan Andi Lala, Iswadi Idris dan Ronny Pattinasarani, Aji Santoso dan Ricky Yakobi, sampai dengan era Bambang Pamungkas dan Boaz Solossa. Mereka adalah nama-nama yang mewakili Indonesia di pentas internasional. Terlepas dari berhasil tidaknya mereka membawa Indonesia kepada kemenangan, mereka adalah penegak panji Merah-Putih di pentas olahraga internasional, walau hanya tingkat ASEAN sekalipun.
Rasa hormat itu seharusnya tidak pernah hilang. Bung Karno dahulu terkenal dengan slogan Jas Merah, Jangan Sekali-Sekali Melupakan Sejarah. Barangkali inilah yang gagal diterapkan oleh bangsa Indonesia. Inspirasi yang seharusnya bisa diperoleh dari para pendahulu tidak pernah sampai ke tangan generasi muda. Kita tidak dapat melihat monumen-monumen tempat bersemayamnya semangat yang dahulu begitu berkobar dipancarkan oleh para pendahulu kita di bidang sepakbola. Bahkan, salah satu monumen sejarah sepakbola kita, Stadion Menteng kini sudah diruntuhkan dan digantikan oleh taman kota yang tidak jelas juntrungannya. Inilah bangsa Indonesia. Bangsa yang seharusnya berterimakasih kepada jasa para pahlawannya, justru tidak pernah sekalipun mencoba mengingat siapa nama pahlawannya dan apa saja jasa-jasanya. Mengingat jasa pahlawan barangkali terdengar klise, tetapi mengingat jasa pahlawan itu tidak sesederhana itu. Mengingat jasa pahlawan berarti meresapi betul-betul semangat yang dikobarkan para pahlawan dan menerapkannya dalam kehidupan.
Yah, saya bangga menjadi orang Indonesia. Saya bangga melihat nama Hindia Belanda dalam sejarah persepakbolaan dunia sempat tercatat. Saya bangga kita pernah berlaga di Olimpiade. Saya bangga kita pernah menahan imbang Uni Soviet. Dan saya bangga atas semua jasa pahlawan sepakbola kita.
Salam Olahraga!
Title : Rasa Hormat Itu Seharusnya Tidak Pernah Hilang..
Description :
Description :
0 comments "Rasa Hormat Itu Seharusnya Tidak Pernah Hilang.."