Posted by:
Sekilas Info
Updated at :
Senin, April 25, 2011
Tags:
suara suporter
Sepakbola, sebagaimana olahraga pada umumnya selalu bertujuan untuk mencari pemenang dan siapa yang terbaik. Dalam sejarah sepakbola, sudah ...
Sepakbola, sebagaimana olahraga pada umumnya selalu bertujuan untuk mencari pemenang dan siapa yang terbaik. Dalam sejarah sepakbola, sudah ada delapan negara yang mampu menjuarai kejuaraan dunia, yaitu Brazil (5 kali), Italia (4 kali), Jerman (3 kali), Uruguay (2 kali), Argentina (2 kali), Perancis (1 kali), Inggris (1 kali), dan Spanyol (1 kali). Semua tim tersebut merengkuh gelar juara dunia dengan 'cara mereka sendiri'. Maksudnya adalah, kedelapan tim tersebut memiliki gaya bermain yang berbeda dengan tim lainnya.
Sebut saja Brazil, dengan Jogo Bonito nya. Brazil terkenal dengan permainan indah dengan umpan-umpan pendek nan ajaib, permutasi pemain yang aktif sepanjang permainan, skill individu yang dipertontonkan nyaris selama 90 menit dan dengan naluri alami mereka sebagai pemain sepakbola. Kemudian ada Italia yang menjadi role model sepakbola bertahan dengan sistem pertahanan gerendelnya yang tenar dengan sebutan Catenaccio. Italia memiliki filosofi bahwa mereka hanya mengizinkan salah satu dari pemain atau bola yang melewati pertahanannya. Akan tetapi, selain Catenaccio ini, mereka juga memiliki satu ciri khas dalam sistem penyerangan mereka, yakni keberadaan seorang trequartista alias penyerang lubang.
Ada pula Spanyol dengan gaya total football a la mereka, Tiki Taka. Cara bermain mereka hampir mirip dengan Brazil tetapi minus pertunjukkan teknik-teknik ajaib dari para pemainnya. Mereka mungkin lebih mirip Belanda di tahun 1974 dan 1978 dengan versi lebih simpel dan efisien. Barangkali ini gaya yang berbeda dari Spanyol-Spanyol sebelumnya yang biasa mengandalkan sayap, tetapi inilah cara mereka menaklukkan dunia. Dan ada pula Inggris yang masih terkenal dengan gaya Kick and Rush meskipun saat ini hanya tim kecil tradisonal Inggris di kompetisi domestik, seperti Stoke City dan Sunderland yang menggunakannya. Kick and Rush adalah suatu sistem permainan direct yang mengandalkan umpan lambung ke depan untuk kemudian langsung dieksekusi oleh para penyerang mereka. Sistem ini jauh dari kata efektif, namun ini adalah ciri khas sepakbola Inggris.
Perancis, Jerman, Uruguay, dan Argentina adalah versi sepakbola pertengahan yang mengadaptasi keempat gaya di atas. Meski begitu, mereka juga memiliki filosofi tersendiri. Jerman akrab dengan label staying power, Perancis selalu mengandalkan stabilitas lini tengah, Uruguay terkenal karena suka bermain keras, dan Argentina bermain dengan gaya latin dengan hampir selalu mengandalkan one man show bintang utamanya.
Cara-cara bermain sepakbola itu kemudian menjadi semacam identitas bagi tim yang menggunakannya. Identitas itu kemudian akan menjadi sebuah pride alias kebanggan tersendiri bagi mereka yang menjalankannya. Pertarungan dua gaya yang berbeda di lapangan sepakbola adalah hal paling menarik yang bisa disaksikan oleh para pecinta sepakbola.
Akan tetapi, di masa sepakbola modern ini, ketika globalisasi sudah menyentuh ranah sepakbola, identitas-identitas yang dahulu menjadi ciri utama sebuah tim menjadi semakin kabur. Terjadi akulturasi atau percampuran dalam gaya bermain sepakbola karena banyaknya pemain-pemain asing yang bermain di suatu negara. Kita ambil contoh klub-klub Liga Primer Inggris. Klub-klub besar Inggris yang dihuni banyak pemain asing kaliber internasional tidak lagi bermain layaknya tim Inggris, sementara itu seperti saya sudah sebut di atas, tim-tim medioker yang masih dilatih dan diperkuat oleh orang-orang Inggris asli cenderung masih mengaplikasikan gaya permainan tersebut.
Di Inggris, klub yang paling 'tidak Inggris' adalah Arsenal, di mana hampir 90% pemain mereka adalah legiun asing. Cara bermain Arsenal pun sama sekali tidak Inggris dan cenderung seperti gaya main tim-tim Spanyol dengan umpan pendek dan permutasi pemain aktif. Dari sini, muncul sebuah 'ketidaksukaan' dari klub tradisional Inggris terhadap klub kosmopolitan seperti ini. Musim lalu, banyak sekali upaya 'Anti-Arsenal' yang dilancarkan oleh tim tradisional Inggris di bawah Tony Pulis, Sam Allardyce, dll. Maskdunya adalah, Arsenal musim lalu menjadi sasaran tembak bagi klub-klub Inggris tradisional ketika bertemu di lapangan. Para pemain Arsenal terkapar karena dihajar permainan keras klub-klub ini. Hal inilah yang kemudian menggelitik saya untuk berkomentar soal gaya sepakbola ini.
Ini semua sebenarnya kembali ke soal 'harga diri', di mana masih banyak fundamentalis sepakbola yang menolak kosmopolitanisme sepakbola. Kosmopolitanisme sendiri mengacu kepada keadaan di mana semua yang ada di dunia dipandang secara universal dan satu. Kosmopolitanisme sepakbola berarti menerima bahwa dalam sepakbola telah terjadi suatu percampuran identitas yang mengarah kepada satu cara tertentu. Menurut mereka para fundamentalis, identitas sepakbola tidak dapat tergantikan oleh apapun demi prestasi dan uang. Mereka ingin mempertahankan gaya lama dalam memainkan sepakbola. Kosmopolitanisme sepakbola, bagi mereka adalah sebuah pukulan telak bagi identitas dan harga diri yang mereka anut.
Permasalahannya adalah bahwa kaum fundamentalis selalu berusaha menggagalkan proses universalisasi yang terjadi.
Tidak ada yang salah sama sekali dengan keberadaan tim-tim kosmopolitan yang mencampur gaya-gaya bermain yang tersedia di dunia. Ini merupakan suatu konsekuensi yang mau tidak mau harus diterima sepakbola sebagai olahraga universal. Semua orang berhak untuk bermain sepakbola di manapun dan dengan gaya apapun. Pemain-pemain asing dengan kualitas wahid selalu berada di liga sepakbola terbaik dan ini akan mempengaruhi negara pemilik kompetisi dalam cara bermain tim nasional mereka. Demikian pula dengan keberadaan pemain suatu negara yang bermain di luar negeri. Hal ini akan membawa pengaruh tersendiri bagi persepakbolaan negara tersebut, contohnya adalah negara-negara Afrika yang mengekspor pemain ke Eropa.
Para fundamentalis seharusnya mampu bersikap bijak menyikapi perubahan besar-besaran sepakbola di era modern ini. Ketika mereka mampu beradaptasi dengan perubahan ini, niscaya mereka akan mampu mendapatkan tempat yang lebih baik dalam persepakbolaan. Gaya bermain sepakbola adalah milik masyarakat dunia, bukan lagi milik entitas tertentu yang dahulu 'menemukannya'. Ketika kita mampu memahami bahwa sepakbola adalah sesuatu yang universal, maka kita tidak akan lagi mengkotak-kotakkan sepakbola itu sendiri. Pengkotak-kotakan sepakbola akan menimbulkan kerugian, terutama dalam fanatisme sempit yang merugikan. Saya sebagai pecinta sepakbola masih berusaha untuk mencoba menerima apa yang terjadi di dalam dunia persepakbolaan modern ini. Jujur, saya adalah pecinta status quo yang lebih ingin melihat gaya sepakbola yang berbeda beradu di lapangan, tetapi kenyataannya di sepakbola modern ini, kemungkinan seperti itu kecil sekali mengingat gaya yang ada sudah saling bercampur menuju kepada kosmopolitanisme. Apapun yang terjadi, penikmat sepakbola akan mencintai sepakbola itu sendiri karena apapun yang kita lihat, kemenangan apapun, itu adalah kemenangan sepakbola.
Penulis @yogacholandha
[ad#twitter]
Sebut saja Brazil, dengan Jogo Bonito nya. Brazil terkenal dengan permainan indah dengan umpan-umpan pendek nan ajaib, permutasi pemain yang aktif sepanjang permainan, skill individu yang dipertontonkan nyaris selama 90 menit dan dengan naluri alami mereka sebagai pemain sepakbola. Kemudian ada Italia yang menjadi role model sepakbola bertahan dengan sistem pertahanan gerendelnya yang tenar dengan sebutan Catenaccio. Italia memiliki filosofi bahwa mereka hanya mengizinkan salah satu dari pemain atau bola yang melewati pertahanannya. Akan tetapi, selain Catenaccio ini, mereka juga memiliki satu ciri khas dalam sistem penyerangan mereka, yakni keberadaan seorang trequartista alias penyerang lubang.
Ada pula Spanyol dengan gaya total football a la mereka, Tiki Taka. Cara bermain mereka hampir mirip dengan Brazil tetapi minus pertunjukkan teknik-teknik ajaib dari para pemainnya. Mereka mungkin lebih mirip Belanda di tahun 1974 dan 1978 dengan versi lebih simpel dan efisien. Barangkali ini gaya yang berbeda dari Spanyol-Spanyol sebelumnya yang biasa mengandalkan sayap, tetapi inilah cara mereka menaklukkan dunia. Dan ada pula Inggris yang masih terkenal dengan gaya Kick and Rush meskipun saat ini hanya tim kecil tradisonal Inggris di kompetisi domestik, seperti Stoke City dan Sunderland yang menggunakannya. Kick and Rush adalah suatu sistem permainan direct yang mengandalkan umpan lambung ke depan untuk kemudian langsung dieksekusi oleh para penyerang mereka. Sistem ini jauh dari kata efektif, namun ini adalah ciri khas sepakbola Inggris.
Perancis, Jerman, Uruguay, dan Argentina adalah versi sepakbola pertengahan yang mengadaptasi keempat gaya di atas. Meski begitu, mereka juga memiliki filosofi tersendiri. Jerman akrab dengan label staying power, Perancis selalu mengandalkan stabilitas lini tengah, Uruguay terkenal karena suka bermain keras, dan Argentina bermain dengan gaya latin dengan hampir selalu mengandalkan one man show bintang utamanya.
Cara-cara bermain sepakbola itu kemudian menjadi semacam identitas bagi tim yang menggunakannya. Identitas itu kemudian akan menjadi sebuah pride alias kebanggan tersendiri bagi mereka yang menjalankannya. Pertarungan dua gaya yang berbeda di lapangan sepakbola adalah hal paling menarik yang bisa disaksikan oleh para pecinta sepakbola.
Akan tetapi, di masa sepakbola modern ini, ketika globalisasi sudah menyentuh ranah sepakbola, identitas-identitas yang dahulu menjadi ciri utama sebuah tim menjadi semakin kabur. Terjadi akulturasi atau percampuran dalam gaya bermain sepakbola karena banyaknya pemain-pemain asing yang bermain di suatu negara. Kita ambil contoh klub-klub Liga Primer Inggris. Klub-klub besar Inggris yang dihuni banyak pemain asing kaliber internasional tidak lagi bermain layaknya tim Inggris, sementara itu seperti saya sudah sebut di atas, tim-tim medioker yang masih dilatih dan diperkuat oleh orang-orang Inggris asli cenderung masih mengaplikasikan gaya permainan tersebut.
Di Inggris, klub yang paling 'tidak Inggris' adalah Arsenal, di mana hampir 90% pemain mereka adalah legiun asing. Cara bermain Arsenal pun sama sekali tidak Inggris dan cenderung seperti gaya main tim-tim Spanyol dengan umpan pendek dan permutasi pemain aktif. Dari sini, muncul sebuah 'ketidaksukaan' dari klub tradisional Inggris terhadap klub kosmopolitan seperti ini. Musim lalu, banyak sekali upaya 'Anti-Arsenal' yang dilancarkan oleh tim tradisional Inggris di bawah Tony Pulis, Sam Allardyce, dll. Maskdunya adalah, Arsenal musim lalu menjadi sasaran tembak bagi klub-klub Inggris tradisional ketika bertemu di lapangan. Para pemain Arsenal terkapar karena dihajar permainan keras klub-klub ini. Hal inilah yang kemudian menggelitik saya untuk berkomentar soal gaya sepakbola ini.
Ini semua sebenarnya kembali ke soal 'harga diri', di mana masih banyak fundamentalis sepakbola yang menolak kosmopolitanisme sepakbola. Kosmopolitanisme sendiri mengacu kepada keadaan di mana semua yang ada di dunia dipandang secara universal dan satu. Kosmopolitanisme sepakbola berarti menerima bahwa dalam sepakbola telah terjadi suatu percampuran identitas yang mengarah kepada satu cara tertentu. Menurut mereka para fundamentalis, identitas sepakbola tidak dapat tergantikan oleh apapun demi prestasi dan uang. Mereka ingin mempertahankan gaya lama dalam memainkan sepakbola. Kosmopolitanisme sepakbola, bagi mereka adalah sebuah pukulan telak bagi identitas dan harga diri yang mereka anut.
Permasalahannya adalah bahwa kaum fundamentalis selalu berusaha menggagalkan proses universalisasi yang terjadi.
Tidak ada yang salah sama sekali dengan keberadaan tim-tim kosmopolitan yang mencampur gaya-gaya bermain yang tersedia di dunia. Ini merupakan suatu konsekuensi yang mau tidak mau harus diterima sepakbola sebagai olahraga universal. Semua orang berhak untuk bermain sepakbola di manapun dan dengan gaya apapun. Pemain-pemain asing dengan kualitas wahid selalu berada di liga sepakbola terbaik dan ini akan mempengaruhi negara pemilik kompetisi dalam cara bermain tim nasional mereka. Demikian pula dengan keberadaan pemain suatu negara yang bermain di luar negeri. Hal ini akan membawa pengaruh tersendiri bagi persepakbolaan negara tersebut, contohnya adalah negara-negara Afrika yang mengekspor pemain ke Eropa.
Para fundamentalis seharusnya mampu bersikap bijak menyikapi perubahan besar-besaran sepakbola di era modern ini. Ketika mereka mampu beradaptasi dengan perubahan ini, niscaya mereka akan mampu mendapatkan tempat yang lebih baik dalam persepakbolaan. Gaya bermain sepakbola adalah milik masyarakat dunia, bukan lagi milik entitas tertentu yang dahulu 'menemukannya'. Ketika kita mampu memahami bahwa sepakbola adalah sesuatu yang universal, maka kita tidak akan lagi mengkotak-kotakkan sepakbola itu sendiri. Pengkotak-kotakan sepakbola akan menimbulkan kerugian, terutama dalam fanatisme sempit yang merugikan. Saya sebagai pecinta sepakbola masih berusaha untuk mencoba menerima apa yang terjadi di dalam dunia persepakbolaan modern ini. Jujur, saya adalah pecinta status quo yang lebih ingin melihat gaya sepakbola yang berbeda beradu di lapangan, tetapi kenyataannya di sepakbola modern ini, kemungkinan seperti itu kecil sekali mengingat gaya yang ada sudah saling bercampur menuju kepada kosmopolitanisme. Apapun yang terjadi, penikmat sepakbola akan mencintai sepakbola itu sendiri karena apapun yang kita lihat, kemenangan apapun, itu adalah kemenangan sepakbola.
Penulis @yogacholandha
[ad#twitter]
Title : UNIVERSALISME SEPAKBOLA @yogacholandha
Description :
Description :
0 comments "UNIVERSALISME SEPAKBOLA @yogacholandha"