Posted by:
Sekilas Info
Updated at :
Selasa, Desember 28, 2010
Tags:
hasil pertandingan
“PSSI Yang Istimewa” oleh twitter @Hasbisy Minggu sore di akhir bulan Desember ini seharusnya menjadi hari yang menggembirakan bagi pecinta ...
“PSSI Yang Istimewa” oleh twitter @Hasbisy
Minggu sore di akhir bulan Desember ini seharusnya menjadi hari yang menggembirakan bagi pecinta sepakbola Indonesia. Kita mempersiapkan hal yang terbaik untuk mendukung timnas Garuda yang hendak melakoni laga pertama final Piala AFF di Bukit Jalil, Malaysia. Tetapi, beberapa jam sebelum kick off, justru berita duka yang kita peroleh. Ribuan massa yang mengantri tiket final leg 2 yang akan diselenggarakan di Gelora Bung Karno dengan beringas mendobrak masuk katedral sepakbola Indonesia ini. Tak hanya sampai disitu, mereka kemudian berhamburan ke tengah lapangan, menginjak-injak rumput dan merusak berbagai barang yang ada disekitar. Alhasil rumput GBK yang kualitasnya sudah tak baik ini menjadi semakin rusak. Sulit untuk memperbaikinya agar tetap bisa digunakan tanggal 29 Desember mendatang.
Cercaan pada perilaku supporter ini langsung datang dari berbagai pihak, mulai dari Nurdin Halid, media, maupun melalui jejaring sosial twitter dan facebook. Supporter dipersalahkan, menjadi pesakitan yang dicap “kampungan”, menjadi kambing hitam dari bobroknya pengelolaan sepakbola Indonesia selama ini. Orang yang datang hari minggu lalu adalah supporter yang hendak membeli tiket termurah dan yang bisa dijangkau oleh kantong mereka, yakni 50 ribu untuk tribun (kategori III). Bagi saya, mereka adalah cerminan supporter fanatik Indonesia yang dengan uang pas-pasan berusaha hadir di setiap pertandingan timnas. Sungguh tak adil bila penghakiman kasar semacam ini diperuntukkan pada mereka.
Ironis. Karena di diri mereka inilah kita diingatkan untuk bersikap heroik dan senantiasa memelihara nasionalime. Mereka inilah yang selalu datang ke stadion mendukung timnas bertanding baik di saat sedang dalam performa apik maupun di titik nadir sekalipun. Mengingatkan untuk selalu membela tanah air dalam kondisi apapun, terutama saat para punggawa Garuda membutuhkan dukungan dan dorongan motivasi.
Dalam hemat saya, supporter yang terlibat kerusuhan minggu sore lalu adalah potret “kelas bawah” negeri ini yang sehari-hari dipaksa menanggung beban beratnya kehidupan. Sepakbola adalah hal yang menjadi satu-satunya tempat untuk rehat sejenak dari perihnya hidup. Menjadi satu hal yang bisa menjadi sarana hiburan sekaligus menyuarakan kebebasan. Di lapangan sepakbola lah mereka bisa dengan leluasa berteriak, berekspresi, dan menyuarakan apapun yang ada di kepala mereka.
Saat satu-satunya hal yang menjadi harapan mereka dikuasai oleh pihak yang mencoba cari untung dan melindungi kuasa, mereka berontak. PSSI dan LOC adalah tirani yang berusaha menguasai dan mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari euforia rakyat. “kelas bawah” yang frustasi akibat berjam-jam mengantri di bawah guyuran hujan dan panas yang datang silih berganti serta dipermainkan panitia, serta merta meluapkan emosi. Saat rasa frustasi memuncak, anarkisme hanya tinggal menunggu waktu. Anarki yang membuncah adalah wujud upaya untuk mendobrak tirani yang angkuh. Tak hanya soal tiket, lebih dari itu supporter ini sudah muak dengan segala rupa pengurus PSSI yang dengan sekuat tenaga mempertahankan status quo.
Semua masalah bersumber pada kepengurusan PSSI. Bukan salah supporter jika kemudian mereka merangsek masuk GBK. Panitia dengan sengaja menyebar nota antrian ke tengah lapang, tanpa komando para pemburu tiket ini langsung menyerbu ke tengah lapangan. Sulit bagi siapapun untuk menolak ikut berebut nota ke tengah lapangan karena mereka sudah frustasi seharian tak mendapatkannya. Jika kita cermati, hal ini tidak akan terjadi jika panitia lebih profesional dan cerdas dalam penjualan tiket. Kerusuhan tiket ini telah merenggut nyawa seorang supporter, meski diklarifikasi dirinya telah memiliki penyakit, tentu hal ini tak akan terjadi jika panitia lebih antisipatif baik dalam pelayanan penjualan serta menyiapkan tenaga medis di sekitar tempat penjualan. Sangat rentan orang jatuh pingsan atau sakit di tengah kelelahan yang melanda dan cuaca yang sering berubah ekstrem. Tapi mereka semua abai dengan kemungkinan semacam ini.
Teriakan “revolusi PSSI” atau semacamnya sudah lama terdengar, tapi tetap tak ada perubahan. PSSI ini memang istimewa. Tak bisa disentuh oleh pengaruh pemerintah, tapi bisa dengan mudah melakukan intervensi terhadap pengelolaan sepakbola nasional, baik klub maupun tim nasional. Jika melihat sepak terjang PSSI selama ini mereka memang tampak sekali ingin diistimewakan dan enggan disalahkan dari carut marutnya sepakbola Indonesia. Bahkan 7 butir rekomendasi dari KSN yang digagas oleh presiden pun tidak digubris sama sekali. Uniknya, tak ada yang marah soal itu, bahkan presiden pun sudah lupa untuk menyinggungnya kembali.
Sudah waktunya presiden dan pemerintah mengambil tindakan untuk memulai revolusi dalam tubuh PSSI. Permasalahan ini sudah akut, jadi wajar jika pemerintah kemudian turun tangan. Apa yang terjadi dalam salah kelola PSSI ini memang “istimewa” atau lain dari yang lain jadi perlu obat yang spesial pula. Jika, presiden berani mengusik keiistimewaan Yogyakarta yang jelas-jelas sudah ada dasarnya dalam perundang-undangan, maka pemerintah juga harus berani menghilangkan hak istimewa yang dimiliki oleh PSSI, karena mereka memang tak pantas untuk mendapatkannya. Ketakutan federasi kita akan dibekukan oleh FIFA karena intervensi bisa dihindari, salah satu cara yang ampuh untuk dilakukan adalah dengan lobi tingkat tinggi, yakni presiden Susilo Bambang Yudhoyono berdiplomasi dengan Sepp Blatter mengenai persepakbolaan kita. Blatter tentu akan mempersilakan bahkan membantu presiden SBY, karena dia seperti kita, tak pernah rela sepakbola dikotori dengan praktek kriminalitas, seperti yang dilakukan oleh Nurdin dan dedengkotnya.
Minggu sore di akhir bulan Desember ini seharusnya menjadi hari yang menggembirakan bagi pecinta sepakbola Indonesia. Kita mempersiapkan hal yang terbaik untuk mendukung timnas Garuda yang hendak melakoni laga pertama final Piala AFF di Bukit Jalil, Malaysia. Tetapi, beberapa jam sebelum kick off, justru berita duka yang kita peroleh. Ribuan massa yang mengantri tiket final leg 2 yang akan diselenggarakan di Gelora Bung Karno dengan beringas mendobrak masuk katedral sepakbola Indonesia ini. Tak hanya sampai disitu, mereka kemudian berhamburan ke tengah lapangan, menginjak-injak rumput dan merusak berbagai barang yang ada disekitar. Alhasil rumput GBK yang kualitasnya sudah tak baik ini menjadi semakin rusak. Sulit untuk memperbaikinya agar tetap bisa digunakan tanggal 29 Desember mendatang.
Cercaan pada perilaku supporter ini langsung datang dari berbagai pihak, mulai dari Nurdin Halid, media, maupun melalui jejaring sosial twitter dan facebook. Supporter dipersalahkan, menjadi pesakitan yang dicap “kampungan”, menjadi kambing hitam dari bobroknya pengelolaan sepakbola Indonesia selama ini. Orang yang datang hari minggu lalu adalah supporter yang hendak membeli tiket termurah dan yang bisa dijangkau oleh kantong mereka, yakni 50 ribu untuk tribun (kategori III). Bagi saya, mereka adalah cerminan supporter fanatik Indonesia yang dengan uang pas-pasan berusaha hadir di setiap pertandingan timnas. Sungguh tak adil bila penghakiman kasar semacam ini diperuntukkan pada mereka.
Ironis. Karena di diri mereka inilah kita diingatkan untuk bersikap heroik dan senantiasa memelihara nasionalime. Mereka inilah yang selalu datang ke stadion mendukung timnas bertanding baik di saat sedang dalam performa apik maupun di titik nadir sekalipun. Mengingatkan untuk selalu membela tanah air dalam kondisi apapun, terutama saat para punggawa Garuda membutuhkan dukungan dan dorongan motivasi.
Dalam hemat saya, supporter yang terlibat kerusuhan minggu sore lalu adalah potret “kelas bawah” negeri ini yang sehari-hari dipaksa menanggung beban beratnya kehidupan. Sepakbola adalah hal yang menjadi satu-satunya tempat untuk rehat sejenak dari perihnya hidup. Menjadi satu hal yang bisa menjadi sarana hiburan sekaligus menyuarakan kebebasan. Di lapangan sepakbola lah mereka bisa dengan leluasa berteriak, berekspresi, dan menyuarakan apapun yang ada di kepala mereka.
Saat satu-satunya hal yang menjadi harapan mereka dikuasai oleh pihak yang mencoba cari untung dan melindungi kuasa, mereka berontak. PSSI dan LOC adalah tirani yang berusaha menguasai dan mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari euforia rakyat. “kelas bawah” yang frustasi akibat berjam-jam mengantri di bawah guyuran hujan dan panas yang datang silih berganti serta dipermainkan panitia, serta merta meluapkan emosi. Saat rasa frustasi memuncak, anarkisme hanya tinggal menunggu waktu. Anarki yang membuncah adalah wujud upaya untuk mendobrak tirani yang angkuh. Tak hanya soal tiket, lebih dari itu supporter ini sudah muak dengan segala rupa pengurus PSSI yang dengan sekuat tenaga mempertahankan status quo.
Semua masalah bersumber pada kepengurusan PSSI. Bukan salah supporter jika kemudian mereka merangsek masuk GBK. Panitia dengan sengaja menyebar nota antrian ke tengah lapang, tanpa komando para pemburu tiket ini langsung menyerbu ke tengah lapangan. Sulit bagi siapapun untuk menolak ikut berebut nota ke tengah lapangan karena mereka sudah frustasi seharian tak mendapatkannya. Jika kita cermati, hal ini tidak akan terjadi jika panitia lebih profesional dan cerdas dalam penjualan tiket. Kerusuhan tiket ini telah merenggut nyawa seorang supporter, meski diklarifikasi dirinya telah memiliki penyakit, tentu hal ini tak akan terjadi jika panitia lebih antisipatif baik dalam pelayanan penjualan serta menyiapkan tenaga medis di sekitar tempat penjualan. Sangat rentan orang jatuh pingsan atau sakit di tengah kelelahan yang melanda dan cuaca yang sering berubah ekstrem. Tapi mereka semua abai dengan kemungkinan semacam ini.
Teriakan “revolusi PSSI” atau semacamnya sudah lama terdengar, tapi tetap tak ada perubahan. PSSI ini memang istimewa. Tak bisa disentuh oleh pengaruh pemerintah, tapi bisa dengan mudah melakukan intervensi terhadap pengelolaan sepakbola nasional, baik klub maupun tim nasional. Jika melihat sepak terjang PSSI selama ini mereka memang tampak sekali ingin diistimewakan dan enggan disalahkan dari carut marutnya sepakbola Indonesia. Bahkan 7 butir rekomendasi dari KSN yang digagas oleh presiden pun tidak digubris sama sekali. Uniknya, tak ada yang marah soal itu, bahkan presiden pun sudah lupa untuk menyinggungnya kembali.
Sudah waktunya presiden dan pemerintah mengambil tindakan untuk memulai revolusi dalam tubuh PSSI. Permasalahan ini sudah akut, jadi wajar jika pemerintah kemudian turun tangan. Apa yang terjadi dalam salah kelola PSSI ini memang “istimewa” atau lain dari yang lain jadi perlu obat yang spesial pula. Jika, presiden berani mengusik keiistimewaan Yogyakarta yang jelas-jelas sudah ada dasarnya dalam perundang-undangan, maka pemerintah juga harus berani menghilangkan hak istimewa yang dimiliki oleh PSSI, karena mereka memang tak pantas untuk mendapatkannya. Ketakutan federasi kita akan dibekukan oleh FIFA karena intervensi bisa dihindari, salah satu cara yang ampuh untuk dilakukan adalah dengan lobi tingkat tinggi, yakni presiden Susilo Bambang Yudhoyono berdiplomasi dengan Sepp Blatter mengenai persepakbolaan kita. Blatter tentu akan mempersilakan bahkan membantu presiden SBY, karena dia seperti kita, tak pernah rela sepakbola dikotori dengan praktek kriminalitas, seperti yang dilakukan oleh Nurdin dan dedengkotnya.
Title : PSSI yang Istimewa
Description :
Description :
3 comments "PSSI yang Istimewa"
[...] This post was mentioned on Twitter by nuansa pratama, Handoyo Subosito and others. Handoyo Subosito said: maklum, ketua RUUK adalah si Bakrie RT @infosuporter PSSI yang Istimewa http://goo.gl/fb/JGHN9 [...]
Balaskalo lagi senggang tolong baca ini trus kasih komentar om, terimakasih
Balashttp://abimanyubimantoro.blogspot.com/2010/12/knapa-harus-nunggu-pssi-jadi-bener.html
mantap bos tulisannya
Balas