Find Other Article...
Jangan Malu Belajar dari Malaysia

Jangan Malu Belajar dari Malaysia

Posted by: Sekilas Info Updated at : Senin, Desember 27, 2010
Pertandingan Indonesia melawan Malaysia selalu menyuguhkan ketegangan yang melampaui batas-batas olahraga permainan terpopuler di dunia ini....
Pertandingan Indonesia melawan Malaysia selalu menyuguhkan ketegangan yang melampaui batas-batas olahraga permainan terpopuler di dunia ini. Tak lain tak bukan adalah karena perseteruan kedua negara dalam ranah politik dari era orde lama hingga kini. Mulai dari sengketa perbatasan sampai persoalan klaim budaya.

Kekalahan telak 0-3 Indonesia dari tuan rumah Malaysia dalam leg 1 final Piala AFF memberikan rasa sakit yang amat perih bagi seluruh pendukung timnas. Euforia dan ekspektasi yang sangat tinggi pada timnas untuk meraih gelar pertama setelah 1991 seakan lenyap tanpa bekas saat menyadari kita kalah segalanya dari negeri seberang tersebut.

Ada yang secara sportif mengakui keunggulan anak asuh Rajagopal. Namun tak sedikit yang menyalahkan efek laser yang digunakan pendukung Malaysia untuk memecahkan konsentrasi pemain kita hingga tak berdaya menghadapi serbuan Mohd Safee dkk. Atau akibat dari para pemain yang kelelahan dan hilang fokus pada pertandingan akibat mengikuti banyak acara di luar kegiatan sepakbola, seperti istigosah, angjangsana ke kediaman ketum Golkar Aburizal Bakrie, dan seabrek acara “tidak penting” lainnya.

Terlepas dari semua faktor non teknis tersebut, patut kita akui bahwa permainan Malaysia memang lebih baik dan pantas menang. Mereka bermain sebagai sebuah tim yang terorganisir dengan rapi dan menampilkan permainan indah dari kaki ke kaki. Tak ada rasa takut dan gugup seperti saat menyerah 5-1 di Gelora Bung Karno saat penyisihan grup lalu. Harimau Malaya memiliki dasar teknik bermain bola yang benar, jarang kita jumpai kesalahan pass ataupun kontrol bola seperti yang kerap kita lihat di tim Garuda. Umpan silang yang dilepaskan oleh pemain Malaysia pun ciamik bak pemain kelas dunia, seperti yang mereka tunjukkan saat gol ketiga yang dibuat oleh Mohd Safee.

Jika pun Malaysia menjuarai turnamen ini, saya rasa mereka memang pantas untuk mendapatkannya. Mereka mempersiapkan diri dengan baik menghadapi final, bahka persiapan mereka untuk mengikuti turnamen ini jauh lebih baik daripada apa yang telah kita persiapkan. Saat kita sibuk mengurusi hal di luar sepakbola, mereka mendapatkan semua yang dibutuhkan oleh sebuah tim untuk bisa menjadi yang terbaik. Setidaknya, ada dua hal yang kita kalah dari Malaysia soal sepakbola, yakni pembinaan dan pengelolaan organisasi.

Pertama, pembinaan pemain muda. Malaysia adalah negara yang dengan tegas menolak kebijakan naturalisasi, seperti yang dilakukan oleh Indonesia, Filipina, maupun Singapura. Dibandingkan mengejar prestasi sesaat, mereka lebih suka membina talenta muda yang tersebar di tanah melayu. Tim AFF saat ini bermaterikan 90% pemain berusia 19-23 tahun, yang telah bermain bersama setidaknya sejak dua tahun lalu. Kegagalan saat menjadi tuan rumah Piala Asia 2007 dan Piala AFF setahun kemudian, membuat Persatuan Bola Sepak Malaysia (FAM: PSSI-nya Malaysia) introspeksi dan memutuskan untuk menerapkan pembinaan jangka panjang.

Proyek pembinaan jangka panjang ini bukan omong kosong. Untuk mendukung program tersebut, federasi memberikan fasilitas infrastruktur kelas satu. Pemeliharaan fasilitas mendapat perhatian khusus. Kualitas Stadion Nasional Bukit Jalil pun mendapat pujian tersendiri dari Alfred Riedl. Tak hanya sampai disitu, Liga Primer Malaysia pun turut andil dengan melarang penggunaan pemain asing guna memberi banyak kesempatan bermain pemain muda negeri Jiran. Pemain muda ditempa dengan iklim kompetisi yang bersih dan teratur, sehingga membuat mereka bisa meningkatkan kualitas skill individu. Mereka juga mendapatkan porsi ujicoba internasional yang banyak, sebelum terjun ke Piala AFF tim ini terjun di Asian Games untuk menempa diri. Dan satu lagi, para pemain muda pilihan K. Rajagopal ini tidak dibebani ekspektasi yang berlebihan. Meski telah berhasil merebut medali emas Sea Games Laos 2009, mereka tidak ditarget juara AFF. Bahkan Rajagopal berujar “Kami harus memberi waktu pada tim ini untuk berkembang. Dua tahun lagi kami yakin bisa menuai prestasi.”

Hal tersebut berbanding terbalik dengan tim kita. Ekspektasi tinggi selalu dibebankan pada tim Garuda. Keringnya prestasi dalam 19 tahun terakhir menjadi beban tersendiri bagi mereka untuk segera berprestasi. Sayangnya harapan besar ini tidak didukung oleh persiapan yang matang. Pelatnas baru digelar 3 bulan menjelang AFF bergulir, itupun disela jadwal kompetisi yang padat. Polemik ini sebenarnya bukan barang baru bagi timnas karena sebelumnya selalu menjadi masalah. Uji coba yang dilakukan pun tak mendapat lawan sepadan, kecuali saat melawan Uruguay di mana kita menyerah 1-7, selebihnya timnas hanya menjajal kekuatan tim semenjana, seperti Pro Titan, Timor Leste, Maladewa, dan yang paling banter Taiwan. Meski reformasi strategi yang dilakukan Alfred Riedl dengan banyak memasukkan pemain muda berhasil, tetap saja kita kedodoran dalam hal elementer, seperti teknik dasar bermain sepakbola, mental, dan ekspektasi serta euforia yang berlebih dari masyarakat. Hal ini juga diperparah dengan hal non teknis yang mengganggu persiapan pemain, seperti dipolitisir oleh Nurdin Halid dan Aburizal Bakrie dan blow up media yang terlalu berlebihan.

Hal kedua, tentunya soal pengelolaan organisasi. Manajemen pada federasi sepakbola memiliki pengaruh yang besar pada prestasi suatu tim nasional. FAM dikelola dengan profesional tanpa korupsi, suap, maupun perebutan kekuasaan. Mereka mengelola sepakbola dengan benar. Terbukti bagaimana jarang kita dengan persoalan mengenai kebobrokan organisasi, berbeda dengan kita yang identik dengan suap, peraturan yang tidak jelas, memihak, dan tak ada transparansi pengelolaan. Contoh nyata adalah persoalan tiket pertandingan final. Penjualan tiket di Bukit Jalil berjalan dengan tertib, baik untuk supporter tuan rumah maupun para pelawat dari Indonesia. Padahal jumlah yang didistribusikan tak kalah dengan yang dijual LOC Indonesia, mengingat kapasitas Bukit Jalil yang mencapai 100 ribu tempat duduk. Sedangkan kita, dari pertandingan pertama hingga penjualan final selalu berpolemik, bahkan harus jatuh satu korban jiwa akibat kerusuhan penjualan tiket final leg 2. Fakta ini menunjukkan bahwa PSSI perlu belajar manajemen organisasi dari FAM agar lebih baik ke depannya.

Dari dua hal tersebut terlihat jelas bahwa kita ketinggalan dari Malaysia soal pembinaan sepakbola, mereka sudah selangkah lebih maju. Sudah waktunya kita hilangkan sentimen politik, dengan menyinggung soal klaim budaya yang pernah dilakukan oleh Malaysia. Disadari atau tidak, klaim yang mereka lakukan telah membangkitkan kembali rasa nasionalisme dan rasa cinta kita pada tanah air ini. Sebelumnya tak ada kewajiban memakai batik di instansi pemerintah, tapi kini setiap komunitas menggalakkan memakai baju batik. Mari kita bersikap dewasa dengan mengakui keunggulan negeri tetangga yang memang menunjukkan kemajuan pesat dari kita. Jika, dahulu kita mengirim guru untuk mengajari mereka, kini kondisi berbalik, kita yang harus belajar dari mereka. Jadi, jangan lagi malu dan ragu untuk belajar dari negeri Jiran, terkhusus untuk bapak-bapak pemangku kuasa di PSSI.

Oleh Sirajudin Hasbi

Twitter (@Hasbisy)
Aplikasi BaBe
Title : Jangan Malu Belajar dari Malaysia
Description :

3 comments "Jangan Malu Belajar dari Malaysia"

setuju, kita harus dewasa mghpi malaysia. Pake otak, bkn pake otot.

Balas

[...] This post was mentioned on Twitter by kevinder007, Oscar Andi, Oscar Andi, bulandini, Zakki Imaddudin and others. Zakki Imaddudin said: Jangan Malu Belajar dari Malaysia http://bit.ly/ghXTZG [...]

Balas

SAYA SANGAT SETUJU KOMENTAR DARI SDR. SIRAJUDIN HASBI. EXPETASI YG TERLALU TINGGI, SIFAT YG MENGANGGAP REME ORANG LAIN, MABOK PUJIAN YG BERLEBIHAN, SIBUK DENGAN ACARA SOSIAL, MERUPAKAN TITIK KELEMAHAN TIMNAS DAN MENTAL BANGSA KITA SENDIRI. SIFAT EMOSI YANG MUDAH TERBAKAR, TIDAK RASIONAL SEMUA SUDAH DIBACA PIHAK LAWAN. SAYA BUKANNYA SEDIH DENGAN KEKALAHAN TIM NAS KITA. MINIMAL HARUS KOREKSI DIRI... SEPAK BOLA AJA KALAH GAK PUNYA KEMAMPUAN , MAU MELAWAN YANG LAIN....

Balas

Tweet

Ads

Aplikasi BaBe