Posted by:
Sekilas Info
Updated at :
Kamis, Oktober 07, 2010
Tags:
suara suporter
Dalam beberapa waktu belakangan ini masyarakat sepakbola Indonesia sibuk memperbincangkan persoalan kebijakan naturalisasi yang dilakukan PS...
Dalam beberapa waktu belakangan ini masyarakat sepakbola Indonesia sibuk memperbincangkan persoalan kebijakan naturalisasi yang dilakukan PSSI. Iman Arief, Ketua Badan Tim Nasional (BTN) PSSI menyatakan kebijakan naturalisasi ini adalah untuk mengatrol prestasi sepakbola Indonesia yang dalam beberapa tahun belakangan ini menunjukkan grafik prestasi menurun. Pemilihan pemain yang akan dinaturalisasi ini diutamakan untuk pemain yang berada di luar negeri dan masih memiliki keturunan Indonesia. Sejauh ini sudah ada beberapa nama yang siap dinaturalisasi, seperti Irfan Bachdim, Kim Jeffrey Kurniawan, Alessandro Trabucco, Sergio Van Dijk, Tobias Waisapy, John Beukering, dan beberapa pemain lainnya. Irfan dan Kim bahkan kini sudah memperkuat klub Persema Malang yang berkompetisi di Indonesia Super League.
Penikmat sepakbola Indonesia tentunya ada yang bersikap pro maupun kontra dengan kebijakan dari PSSI ini. Yang pro tentunya yakin apabila proyek naturalisasi ini bisa mengangkat prestasi timnas sepakbola kita yang tengah terpuruk. Di pihak yang kontra beranggapan bahwa kebijakan ini justru akan menghambat regenerasi pemain muda dan tidak yakin jika datangnya pemain “asing” ini mampu membuat perbedaan yang signifikan dalam upaya menambah kekuatan timnas. Demi mengimplementasikan kebijakan ini, PSSI secara khusus membentuk tim khusus yang bertugas mencari pemain profesional yang masih memiliki keturunan Indonesia. Aspek kemampuan olah bola juga dimasukkan dan tidak asal comot saja. Tapi, rasanya sulit bagi PSSI untuk “menemukan” pemain hebat yang berlaga di liga Eropa dan memiliki keturunan Indonesia yang bersedia memperkuat tim merah putih.
Jujur saja, sulit untuk membujuk pemain hebat bergabung di timnas Garuda. Mereka tentunya akan lebih memilih negara yang memiliki peluang lebih baik dalam hal prestasi sepakbola internasional. Radja Nainggolan misalnya, dari namanya saja kita akan yakin kalau dia memiliki keturunan Indonesia. Seperti yang kita ketahui juga dia adalah pemain muda berbakat yang kini berlaga di klub Seri A, Cagliari. Bukan sebagai pemain cadangan abadi, tapi pemain reguler yang berlaga tiap pekan. Sebelum memperkuat Cagliari, Radja juga pernah bergabung dengan klub Itali lainnya, Piacenza. Dari pengalamannya bermain tersebut tak perlu kita sangsikan lagi kualitas olah bolanya. Tapi, apakah Radja bersedia untuk memperkuat timnas Indonesia berlaga di pentas internasional ? Rasanya tidak mungkin. Secara objektif dia akan lebih memilih bermain untuk Belgia yang lebih berpotensi berprestasi dan peluangnya berlaga di event sekelas Piala Dunia jauh lebih besar ketimbang Indonesia. Jangankan berlaga di Piala Dunia, untuk berjaya di asia tenggara saja (maaf) kita masih keteteran. Belgia sendiri tak mau kehilangan salah satu aset terbaiknya dengan memanggil Radja untuk memperkuat timnas U-23. Tak perlu lagi kita berharap Radja akan bermain untuk timnas garuda, karena mungkin saja tak pernah sedikitpun nama Indonesia terlintas dalam benak Radja.
Alhasil, jika tak mampu mendapatkan pemain sekelas Radja, PSSI hanya akan mendapatkan pemain “kelas dua” yang memiliki kakek berdarah Indonesia dan syukur-syukur berlaga di liga Eropa atau setidaknya mengenyam akademi sepakbola klub elit. Kalau sudah begini, pemain yang akan dinaturalisasi pun sepertinya hanya memiliki kualitas yang tak jauh beda dengan pemain lokal.
Kalau boleh jujur, kebijakan naturalisasi ini lebih banyak nilai negatif daripada positifnya. Naturalisasi memang berpotensi positif bagi komposisi tim nasional yang lebih baik dan diharapkan akan mampu mengatrol prestasi. Tapi patut dicatat bahwa prestasi tersebut hanya untuk jangka pendek saja. Dan juga ada kemungkinan naturalisasi tidak seperti yang kita harapkan, karena bisa saja pemain yang dinaturalisasi tidak memiliki kemampuan yang lebih baik daripada pemain yang jelas asli Indonesia. Irfan Bachdim misalnya, pemain yang mengenyam akademi Ajax Amsterdam ini pernah ditolak ketika menjalani seleksi di Persija Jakarta dan Persib Bandung. Penolakan yang dilakukan kedua klub besar Indonesia tersebut tentunya dengan latar pertimbangan persoalan teknik dan kemampuan bermain. Berasal dari luar negeri atau dari negeri sepakbola seperti Belanda sekalipun belum menjamin bahwa skill bermain sepakbola nya unggul dibandingkan dengan produk lokal.
Harapan PSSI bahwa pemain naturalisasi akan mengatrol prestasi timnas sepertinya hanya mimpi di siang bolong. PSSI selayaknya menyadari bahwa mereka harus mencetak pemain sendiri. Mencetak pemain dengan kualitas mumpuni memang tidak mudah, perlu pembinaan jangka panjang yang perlu dana besar, dukungan berbagai pihak, dan kesabaran dalam mengelola. Brazil, Spanyol, ataupun negara sepakbola lainnya memiliki pembinaan usia muda berjenjang yang lengkap yang disertai kompetisi untuk memberikan pengalaman bertanding. Pembinaan seperti itulah yang layak kita contoh.
Dalam membidani pembinaan usia muda, PSSI tak perlu cemas tak ada dukungan. Ada berbagai pihak yang telah sejak lama menopang program pembinaan usia muda. Perusahaan-perusahaan besar, seperti Coca Cola, Medco, Danone, Nike, dan lainnya secara berkala mengadakan kompetisi guna menggeliatkan pembinaan usia muda. Pemerintah melalui kementrian Pemuda dan Olahraga juga mulai menyelenggaraan Liga Pendidikan Indonesia untuk tingkat SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi. Namun, kompetisi-kompetisi tersebut seperti kurang mendapatkan perhatian dan cenderung insidental atau selepas selesai tak ada kelanjutannya. Pemerintah, PSSI, dan perusahaan-perusahaan tersebut selayaknya duduk bersama untuk merancang bersama konsep pembinaan usia muda yang berjenjang dan berkelanjutan secara lebih terarah sehingga bisa hasilnya bisa dimanfaatkan untuk kemajuan sepakbola nasional.
Sebagai masyarakat sepakbola Indonesia kita juga harus turut berperan aktif dalam pembinaan ini dan bersabar untuk tidak melulu menuntut prestasi jangka pendek semata. Jika, pelaksanaan program pembinaan usia muda ini berjalan dengan baik dan sebagaimana mestinya, bukan tidak mungkin lagi 10 tahun lagi tim nasional kita menjadi salah satu yang disegani di dunia dan secara reguler berlaga di Piala Dunia. Semoga PSSI lekas sadar akan kewajiban mereka untuk mencetak pemain sendiri bukan dengan jalan pintas naturalisasi.
Oleh Sirajudin Hasbi ( Mahasiswa UGM dan Marketing Officer Javapuccino [http://javapuccino.com] twitter @hasbisy )
Penikmat sepakbola Indonesia tentunya ada yang bersikap pro maupun kontra dengan kebijakan dari PSSI ini. Yang pro tentunya yakin apabila proyek naturalisasi ini bisa mengangkat prestasi timnas sepakbola kita yang tengah terpuruk. Di pihak yang kontra beranggapan bahwa kebijakan ini justru akan menghambat regenerasi pemain muda dan tidak yakin jika datangnya pemain “asing” ini mampu membuat perbedaan yang signifikan dalam upaya menambah kekuatan timnas. Demi mengimplementasikan kebijakan ini, PSSI secara khusus membentuk tim khusus yang bertugas mencari pemain profesional yang masih memiliki keturunan Indonesia. Aspek kemampuan olah bola juga dimasukkan dan tidak asal comot saja. Tapi, rasanya sulit bagi PSSI untuk “menemukan” pemain hebat yang berlaga di liga Eropa dan memiliki keturunan Indonesia yang bersedia memperkuat tim merah putih.
Jujur saja, sulit untuk membujuk pemain hebat bergabung di timnas Garuda. Mereka tentunya akan lebih memilih negara yang memiliki peluang lebih baik dalam hal prestasi sepakbola internasional. Radja Nainggolan misalnya, dari namanya saja kita akan yakin kalau dia memiliki keturunan Indonesia. Seperti yang kita ketahui juga dia adalah pemain muda berbakat yang kini berlaga di klub Seri A, Cagliari. Bukan sebagai pemain cadangan abadi, tapi pemain reguler yang berlaga tiap pekan. Sebelum memperkuat Cagliari, Radja juga pernah bergabung dengan klub Itali lainnya, Piacenza. Dari pengalamannya bermain tersebut tak perlu kita sangsikan lagi kualitas olah bolanya. Tapi, apakah Radja bersedia untuk memperkuat timnas Indonesia berlaga di pentas internasional ? Rasanya tidak mungkin. Secara objektif dia akan lebih memilih bermain untuk Belgia yang lebih berpotensi berprestasi dan peluangnya berlaga di event sekelas Piala Dunia jauh lebih besar ketimbang Indonesia. Jangankan berlaga di Piala Dunia, untuk berjaya di asia tenggara saja (maaf) kita masih keteteran. Belgia sendiri tak mau kehilangan salah satu aset terbaiknya dengan memanggil Radja untuk memperkuat timnas U-23. Tak perlu lagi kita berharap Radja akan bermain untuk timnas garuda, karena mungkin saja tak pernah sedikitpun nama Indonesia terlintas dalam benak Radja.
Alhasil, jika tak mampu mendapatkan pemain sekelas Radja, PSSI hanya akan mendapatkan pemain “kelas dua” yang memiliki kakek berdarah Indonesia dan syukur-syukur berlaga di liga Eropa atau setidaknya mengenyam akademi sepakbola klub elit. Kalau sudah begini, pemain yang akan dinaturalisasi pun sepertinya hanya memiliki kualitas yang tak jauh beda dengan pemain lokal.
Kalau boleh jujur, kebijakan naturalisasi ini lebih banyak nilai negatif daripada positifnya. Naturalisasi memang berpotensi positif bagi komposisi tim nasional yang lebih baik dan diharapkan akan mampu mengatrol prestasi. Tapi patut dicatat bahwa prestasi tersebut hanya untuk jangka pendek saja. Dan juga ada kemungkinan naturalisasi tidak seperti yang kita harapkan, karena bisa saja pemain yang dinaturalisasi tidak memiliki kemampuan yang lebih baik daripada pemain yang jelas asli Indonesia. Irfan Bachdim misalnya, pemain yang mengenyam akademi Ajax Amsterdam ini pernah ditolak ketika menjalani seleksi di Persija Jakarta dan Persib Bandung. Penolakan yang dilakukan kedua klub besar Indonesia tersebut tentunya dengan latar pertimbangan persoalan teknik dan kemampuan bermain. Berasal dari luar negeri atau dari negeri sepakbola seperti Belanda sekalipun belum menjamin bahwa skill bermain sepakbola nya unggul dibandingkan dengan produk lokal.
Harapan PSSI bahwa pemain naturalisasi akan mengatrol prestasi timnas sepertinya hanya mimpi di siang bolong. PSSI selayaknya menyadari bahwa mereka harus mencetak pemain sendiri. Mencetak pemain dengan kualitas mumpuni memang tidak mudah, perlu pembinaan jangka panjang yang perlu dana besar, dukungan berbagai pihak, dan kesabaran dalam mengelola. Brazil, Spanyol, ataupun negara sepakbola lainnya memiliki pembinaan usia muda berjenjang yang lengkap yang disertai kompetisi untuk memberikan pengalaman bertanding. Pembinaan seperti itulah yang layak kita contoh.
Dalam membidani pembinaan usia muda, PSSI tak perlu cemas tak ada dukungan. Ada berbagai pihak yang telah sejak lama menopang program pembinaan usia muda. Perusahaan-perusahaan besar, seperti Coca Cola, Medco, Danone, Nike, dan lainnya secara berkala mengadakan kompetisi guna menggeliatkan pembinaan usia muda. Pemerintah melalui kementrian Pemuda dan Olahraga juga mulai menyelenggaraan Liga Pendidikan Indonesia untuk tingkat SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi. Namun, kompetisi-kompetisi tersebut seperti kurang mendapatkan perhatian dan cenderung insidental atau selepas selesai tak ada kelanjutannya. Pemerintah, PSSI, dan perusahaan-perusahaan tersebut selayaknya duduk bersama untuk merancang bersama konsep pembinaan usia muda yang berjenjang dan berkelanjutan secara lebih terarah sehingga bisa hasilnya bisa dimanfaatkan untuk kemajuan sepakbola nasional.
Sebagai masyarakat sepakbola Indonesia kita juga harus turut berperan aktif dalam pembinaan ini dan bersabar untuk tidak melulu menuntut prestasi jangka pendek semata. Jika, pelaksanaan program pembinaan usia muda ini berjalan dengan baik dan sebagaimana mestinya, bukan tidak mungkin lagi 10 tahun lagi tim nasional kita menjadi salah satu yang disegani di dunia dan secara reguler berlaga di Piala Dunia. Semoga PSSI lekas sadar akan kewajiban mereka untuk mencetak pemain sendiri bukan dengan jalan pintas naturalisasi.
Oleh Sirajudin Hasbi ( Mahasiswa UGM dan Marketing Officer Javapuccino [http://javapuccino.com] twitter @hasbisy )
Title : Cetak Pemain Sendiri !
Description :
Description :

2 comments "Cetak Pemain Sendiri !"
cfgbgwqty http://www.free-mass-traffic.net/free-mass-traffic/free-mass-traffic-review Free Mass Traffic
Balasreally liked the post that you wrote . it really isn't that simple to discover great posts to read (you know.. READ! and not simply browsing through it like some uniterested and flesh eating zombie before going to yet another post to just ignore), so cheers man for really not wasting my time on the god forsaken internet. ;)
Balas