Posted by:
Sekilas Info
Updated at :
Senin, Juni 16, 2014
Entah mengapa, mungkin semuanya ini terjadi secara kebetulan saja, boleh percaya boleh tidak, semuanya hanya kebetulan saja. Pagi itu bokap...
Entah mengapa, mungkin semuanya ini terjadi secara kebetulan saja, boleh percaya boleh tidak, semuanya hanya kebetulan saja.
Pagi itu bokap membangunkan gue dari tidur nyenyak di pagi-pagi buta. Dia hanya berkata “wan, mau ikut papi nonton bola di maracana?” dan gue yang saat itu baru aja mengenal bola lewat atraksi ruud gullit di piala eropa tahun 1988 tepatnya setahun sebelumnya hanya menjawab “iya” tanpa ragu.
Kata-kata maracana terus mengiang di telinga dan terbayang tak karuan di benak gue. selama di sekolah pun gue tidak bisa berkonsentrasi penuh karena nama “maracana”.
Tak terpikir sekalipun untuk bertanya kepada teman-teman disekitar gue karena gue yakin mereka hanya akan memberikan tampang bodoh mereka karena ngak tahu tentang nama tersebut.
Saat itu karena tidak ada koneksi internet sama sekali sulit untuk mencari informasi mengenai nama tersebut,pikir gue Hanya satu jawaban yang akan gue dapetin yakni menunggu bokap gue pulang dari kantornya.
Saat malam tiba sebelum makan malam, bokap yang sedang sibuk mengurus surat-surat untuk kepergian kami berdua akhirnya memanggil gue hanya untuk memastikan gue mau pergi atau tidak. disaat itulah gue menanyakan dimanakah itu maracana?
“Brazil!!!” kira-kira bisa satu harian kita di pesawat, wan.”
Mata gue hanya melotot, apakah bokap benar-benar serius mengajak gue ke brasil?
Akhirnya , malam sebelum gue dan bokap berangkat ke brazil, di bulan September tanggal 2 tersebut, gue baru bener-bener yakin bahwa gue akan menonton untuk pertama kalinya sepakbola langsung ke dalam stadion.
Sungguh perjalanan yang luar biasa, di mulai dari pukul 3 pagi dimana gue sudah harus siap ke bandara dengan pesawat menuju ke singapura.dan dilanjutkan ke belanda. Setelah itu ke atalanta dan di sambung dengan pesawat menuju ke Rio De jainero. Bisa loe orang bayangin, gue yang saat itu belum genap berusia 11 tahun harus melalui 4 bandara dalam waktu 48 jam untuk melihat keindahan Maracana di Brazil.
Stadion yang berkapasitas saat itu hampir bisa menampung 130 ribu orang, terlihat besar sekali dari luar. Sesampainya di brasil, kita langsung menuju ke hotel tempat kami menginap. Tak lama kemudian, bokap mengajak gue bertemu dengan salah satu sahabatnya orang jepang yang memang bekerja di tempat yang sama seperti bokap gue, yakni PT Sanyo. Orang jepang inilah yang mengajak bokap dan gue keliling Rio selama beberapa hari.
Cerita punya cerita, PT Sanyo tempat dimana bokap gue bekerja memiliki cabang di Brazil. Ada beberapa urusan yang mesti bokap gue lakukan disini menyangkut pekerjaannya, dan secara kebetulan sekali dia dan temannya yang orang jepang itu menyukai sepakbola, dan sekali lagi secara kebetulan ada pertandingan besar yakni kualifikasi piala dunia ke Italia tahun 1990 dimana brazil menghadapi chili yang bisa dibilang merupakan partai menentukan. bokap dan temannya yang org jepang itu merasa terpanggil untuk tidak melewatkan pertandingan tersebut. Yang menjadi pertanyaan besar disini adalah, mengapa bokap ngajak gue.!!!??
Trus terang, gue rada sedikit sedih untuk menceritakan kembali semuanya ini, dikarenakan bokap gue sudah almarhum sejak 6 tahun lalu. Dialah orang paling berjasa yang untuk pertama kalinya memperkenalkan gue dengan yang namanya sepakbola.
Bokap pernah bilang bahwa dia ingin gue mengenal lebih jauh tentang sepakbola, dia pernah membelikan gue sepatu bola agar gue bisa menjadi seperti salah satu pemain favorit dia bebeto. tapi sayang, gue memang tidak berbakat menjadi pemain sepakbola. Entah mengapa, sejak masuk ke bangku smp gue lebih memilih menekuni olahraga basket dan berenang.

Okay, ternyata setelah gue mencari tahu mengapa bokap ngajak gue ke brasil tepatnya ke maracana ini, dia ingin gue melihat langsung pemain favoritnya bermain, yakni bebeto. Seperti yang gue bilang tadi, dia ingin gue menjadi seperti bebetooo..wuahhhh…keinginan yg bukan sembarangan. Gue rasa keinginan seluruh orang tua di brasil ini anak-anaknya kalo bisa menjadi seperti seorang bebeto saat itu. bukan hanya bokap gue aja. Hahahaha’
tentunya gue happy banget bisa nonton langsung pertandingan seperti pertandingan brazil vs chili. Dan khususnya di tempat yg luar biasa megahnya saat itu. MARACANA! Semua orang membicarakan maracana saat itu. bukan hanya tim atau pemain seperti zico yang kabarnya hari itu adalah pertandingan terakhirnya bersama timnas Brazil.

Pertandingan yang dilangsungkan malam hari itu tidak berakhir mulus secara normal. Pertandingan yang memang pada akhirnya dimenangkan oleh brasil dengan skor 2-0 berbau kontroversial, akibat kerusuhan terjadi di babak kedua, tepatnya di menit ke 69.
Salah satu penonton melemparkan roket ke arah kiper Timnas chili. Dari kejauhan memang tampak sepertinya kiper itu mengenai salah satu roket api, tapi banyak media-media di brasil sehari setelah pertandingan itu mengungkapkan bahwa kiper yang bernama Roberto Rojas hanya berpura-pura kesakitan padahal roket sama sekali tidak mengenai sedikitpun anggota tubuh Rojas.

Pertandingan itu dihentikan ketika para pemain chili menolak untuk melanjutkan dan wasit argentina juan carlos lostau mengajak seluruh pemain brasil keluar dari lapangan dan memberitahukan bahwa pertandingan akan di tunda.
Keadaan di Maracana saat itu bagaikan neraka di malam hari. Supporter Brasil saat itu memang dikenal sebagai salah satu supporter paling berbahaya khususnya di daerah amerika latin. Banyak kejadian yang mengenaskan menyangkut kerusuhan yang terjadi akibat ulah para supporter di brasil tersebut.
Bokap, dan temannya memutuskan untuk tidak berada berlama-lama di dalam stadion karena kejadian memang sudah tidak memungkinkan untuk kita bersenang-senang melihat suguhan pertandingan yang menarik dari tim samba.
Tak lama setelah kami berhasil keluar dari stadion, suasana di luar lapangan pun tak kalah rusuhnya. Beberapa regu polisi sedang bentrok dengan para supporter asal brasil. Entah apa yang salah malam itu. kami bertiga hanya mencoba terus menghindar dan menghindar dan secepat mungkin kembali ke hotel tempat kami menginap dengan berlari sambil tidak memperdulikan orang orang di sekitar kita.
Kami memutuskan untuk berjalan mencari transportasi umum, sayangnya banyak jalan yang di blokir oleh pihak keamanan setempat untuk menghindari kerusuhan yang terjadi di sekitar stadion.
Malam yang melelahkan tentunya,sesampai di hotel, bokap memberi gue banyak air putih dan berusaha untuk menenangkan gue yang saat itu terlihat panic. Gue juga berusaha untuk tidak membuat bokap semakin panic karena gue hanya sedikit kaget atas apa yang terjadi. Keesokan lusa,akhirnya gue terbang kembali ke Jakarta dengan jalur yang luar biasa panjangnya, hampir 48 jam kami di pesawat menikmati cerita Maracana yang tidak akan pernah gue lupakan itu sampai kapanpun.
Penulis IwanWidjaya
Pagi itu bokap membangunkan gue dari tidur nyenyak di pagi-pagi buta. Dia hanya berkata “wan, mau ikut papi nonton bola di maracana?” dan gue yang saat itu baru aja mengenal bola lewat atraksi ruud gullit di piala eropa tahun 1988 tepatnya setahun sebelumnya hanya menjawab “iya” tanpa ragu.
Kata-kata maracana terus mengiang di telinga dan terbayang tak karuan di benak gue. selama di sekolah pun gue tidak bisa berkonsentrasi penuh karena nama “maracana”.
Tak terpikir sekalipun untuk bertanya kepada teman-teman disekitar gue karena gue yakin mereka hanya akan memberikan tampang bodoh mereka karena ngak tahu tentang nama tersebut.
Saat itu karena tidak ada koneksi internet sama sekali sulit untuk mencari informasi mengenai nama tersebut,pikir gue Hanya satu jawaban yang akan gue dapetin yakni menunggu bokap gue pulang dari kantornya.
Saat malam tiba sebelum makan malam, bokap yang sedang sibuk mengurus surat-surat untuk kepergian kami berdua akhirnya memanggil gue hanya untuk memastikan gue mau pergi atau tidak. disaat itulah gue menanyakan dimanakah itu maracana?
“Brazil!!!” kira-kira bisa satu harian kita di pesawat, wan.”
Mata gue hanya melotot, apakah bokap benar-benar serius mengajak gue ke brasil?
Akhirnya , malam sebelum gue dan bokap berangkat ke brazil, di bulan September tanggal 2 tersebut, gue baru bener-bener yakin bahwa gue akan menonton untuk pertama kalinya sepakbola langsung ke dalam stadion.
Sungguh perjalanan yang luar biasa, di mulai dari pukul 3 pagi dimana gue sudah harus siap ke bandara dengan pesawat menuju ke singapura.dan dilanjutkan ke belanda. Setelah itu ke atalanta dan di sambung dengan pesawat menuju ke Rio De jainero. Bisa loe orang bayangin, gue yang saat itu belum genap berusia 11 tahun harus melalui 4 bandara dalam waktu 48 jam untuk melihat keindahan Maracana di Brazil.
Stadion yang berkapasitas saat itu hampir bisa menampung 130 ribu orang, terlihat besar sekali dari luar. Sesampainya di brasil, kita langsung menuju ke hotel tempat kami menginap. Tak lama kemudian, bokap mengajak gue bertemu dengan salah satu sahabatnya orang jepang yang memang bekerja di tempat yang sama seperti bokap gue, yakni PT Sanyo. Orang jepang inilah yang mengajak bokap dan gue keliling Rio selama beberapa hari.
Cerita punya cerita, PT Sanyo tempat dimana bokap gue bekerja memiliki cabang di Brazil. Ada beberapa urusan yang mesti bokap gue lakukan disini menyangkut pekerjaannya, dan secara kebetulan sekali dia dan temannya yang orang jepang itu menyukai sepakbola, dan sekali lagi secara kebetulan ada pertandingan besar yakni kualifikasi piala dunia ke Italia tahun 1990 dimana brazil menghadapi chili yang bisa dibilang merupakan partai menentukan. bokap dan temannya yang org jepang itu merasa terpanggil untuk tidak melewatkan pertandingan tersebut. Yang menjadi pertanyaan besar disini adalah, mengapa bokap ngajak gue.!!!??
Trus terang, gue rada sedikit sedih untuk menceritakan kembali semuanya ini, dikarenakan bokap gue sudah almarhum sejak 6 tahun lalu. Dialah orang paling berjasa yang untuk pertama kalinya memperkenalkan gue dengan yang namanya sepakbola.
Bokap pernah bilang bahwa dia ingin gue mengenal lebih jauh tentang sepakbola, dia pernah membelikan gue sepatu bola agar gue bisa menjadi seperti salah satu pemain favorit dia bebeto. tapi sayang, gue memang tidak berbakat menjadi pemain sepakbola. Entah mengapa, sejak masuk ke bangku smp gue lebih memilih menekuni olahraga basket dan berenang.

Okay, ternyata setelah gue mencari tahu mengapa bokap ngajak gue ke brasil tepatnya ke maracana ini, dia ingin gue melihat langsung pemain favoritnya bermain, yakni bebeto. Seperti yang gue bilang tadi, dia ingin gue menjadi seperti bebetooo..wuahhhh…keinginan yg bukan sembarangan. Gue rasa keinginan seluruh orang tua di brasil ini anak-anaknya kalo bisa menjadi seperti seorang bebeto saat itu. bukan hanya bokap gue aja. Hahahaha’
tentunya gue happy banget bisa nonton langsung pertandingan seperti pertandingan brazil vs chili. Dan khususnya di tempat yg luar biasa megahnya saat itu. MARACANA! Semua orang membicarakan maracana saat itu. bukan hanya tim atau pemain seperti zico yang kabarnya hari itu adalah pertandingan terakhirnya bersama timnas Brazil.

Pertandingan yang dilangsungkan malam hari itu tidak berakhir mulus secara normal. Pertandingan yang memang pada akhirnya dimenangkan oleh brasil dengan skor 2-0 berbau kontroversial, akibat kerusuhan terjadi di babak kedua, tepatnya di menit ke 69.
Salah satu penonton melemparkan roket ke arah kiper Timnas chili. Dari kejauhan memang tampak sepertinya kiper itu mengenai salah satu roket api, tapi banyak media-media di brasil sehari setelah pertandingan itu mengungkapkan bahwa kiper yang bernama Roberto Rojas hanya berpura-pura kesakitan padahal roket sama sekali tidak mengenai sedikitpun anggota tubuh Rojas.

Pertandingan itu dihentikan ketika para pemain chili menolak untuk melanjutkan dan wasit argentina juan carlos lostau mengajak seluruh pemain brasil keluar dari lapangan dan memberitahukan bahwa pertandingan akan di tunda.
Keadaan di Maracana saat itu bagaikan neraka di malam hari. Supporter Brasil saat itu memang dikenal sebagai salah satu supporter paling berbahaya khususnya di daerah amerika latin. Banyak kejadian yang mengenaskan menyangkut kerusuhan yang terjadi akibat ulah para supporter di brasil tersebut.
Bokap, dan temannya memutuskan untuk tidak berada berlama-lama di dalam stadion karena kejadian memang sudah tidak memungkinkan untuk kita bersenang-senang melihat suguhan pertandingan yang menarik dari tim samba.
Tak lama setelah kami berhasil keluar dari stadion, suasana di luar lapangan pun tak kalah rusuhnya. Beberapa regu polisi sedang bentrok dengan para supporter asal brasil. Entah apa yang salah malam itu. kami bertiga hanya mencoba terus menghindar dan menghindar dan secepat mungkin kembali ke hotel tempat kami menginap dengan berlari sambil tidak memperdulikan orang orang di sekitar kita.
Kami memutuskan untuk berjalan mencari transportasi umum, sayangnya banyak jalan yang di blokir oleh pihak keamanan setempat untuk menghindari kerusuhan yang terjadi di sekitar stadion.
Malam yang melelahkan tentunya,sesampai di hotel, bokap memberi gue banyak air putih dan berusaha untuk menenangkan gue yang saat itu terlihat panic. Gue juga berusaha untuk tidak membuat bokap semakin panic karena gue hanya sedikit kaget atas apa yang terjadi. Keesokan lusa,akhirnya gue terbang kembali ke Jakarta dengan jalur yang luar biasa panjangnya, hampir 48 jam kami di pesawat menikmati cerita Maracana yang tidak akan pernah gue lupakan itu sampai kapanpun.
Penulis IwanWidjaya
Title : Tulisan Suporter : Bebeto dan Maracana
Description :
Description :
0 comments "Tulisan Suporter : Bebeto dan Maracana"