Posted by:
Sekilas Info
Updated at :
Rabu, Oktober 12, 2011
Tags:
hasil pertandingan
Kalau mau maju, hentikan pemikiran sukses ala ‘mie kocok’. Awal 2007, saya duduk di bangku stadion Suncorpe, Brisbane, untuk menyaksikan pe...
Kalau mau maju, hentikan pemikiran sukses ala ‘mie kocok’.
Awal 2007, saya duduk di bangku stadion Suncorpe, Brisbane, untuk menyaksikan pertandingan Hyundai A-League yang mempertemukan dua klub papan atas Australia, tuan rumah Queensland Roar dan Sydney FC. Pertandingan yang berakhir 1-1 itu disaksikan lebih dari 30 ribu penonton, meski suasana stadionnya tak seramai keriuhan Liga Indonesia. Hasil seri itu memupus harapan tim tuan rumah melaju ke play-off penentuan juara. Sydney FC sendiri kemudian keluar jadi juara dan berhadapan dengan jawara Liga Indonesia, Persik Kediri, di Liga Champions Asia.
Lebih empat tahun kemudian, klub kebanggaan kota terbesar ke-4 di Australia itu bangkit. Nama Queensland Roar berubah menjadi Brisbane Roar, terkait hadirnya dua klub lain dari negara bagian Queensland ke kasta tertinggi A-League, yakni Gold Coast United dan North Queensland Fury. Brisbane Roar meraih prestasi cemerlang dengan menjadi juara Liga Australia dengan mencatat rekor tak terkalahkan selama 28 pertandingan.
Sayang, prestasi moncer itu tak diikuti dengan kesehatan keuangan. Jadilah, pekan lalu, 70% saham Brisbane Roar resmi dibeli Bakrie Group. Konglomerat tanah air yang dikenal bola ini melengkapi koleksi “tim asing”-nya setelah memiliki klub Divisi II Belgia CS Vise dan SAD Uruguay. Adapun di dalam negeri, mereka sudah menanamkan kuku kuat-kuat di Pelita Jaya Karawang dan Deltras Sidoarjo. Konon, tim-tim luar negeri itu akan dijadikan pembibitan anak-anak muda pemain bola berbakat Indonesia.
Tulisan ini tak ada kaitannya dengan politisasi atau upaya memuji satu kelompok bisnis tertentu.Hanya saja, yang namanya pembinaan sepakbola harus berlangsung dalam jangka panjang. Tak ada prestasi yang dapat tercipta secara instan. Begitu tim nasional Pra Piala Dunia keok dalam tiga pertandingan berturut-turut, layakkah kemudian para penggila bola tanah air langsung meminta mundur Ketua Umum PSSI yang baru? Atau langsung menyuarakan tuntutan pemecatan pelatih Wim Rijsbergen?
Bahkan membangun Roma pun tak bisa dilakukan dalam sehari. Kita harus sabar dalam menanti prestasi sepakbola Indonesia, lewat pilar pembinaan dan kompetisi berkualitas. Tak bisa asal teriak, asal pecat, atau asal lempar petasan. Gagal lolos Piala Dunia 2014 atau bahkan seandainya belum berhasil meraih emas Sea Games XXVI, bukanlah kiamat bagi dunia sepakbola kita. Bagaimanapun, makan sesuatu secara instan ala “mie kocok” tidak lebih menyehatkan daripada mendapatkan makanan yang matang.
Sayang, di saat mencoba mengais kesabaran untuk mendapatkan prestasi tanpa lewat jalur “mie kocok”, pandangan saya tertuju kepada berita tentang pengesahan 5 pemain asing yag resmi dinaturalisasi menjadi WNI. Greg Nwokolo, Victor Igbonefo (Nigeria), Stefano Lilipaly, Jhony van Beukering dam Tonnie Cusell (Belanda) resmi diambil sumpahnya oleh Kementerian Hukum dan HAM Kanwil DKI Jakarta. Ini ironi besar di tengah upaya menghibur diri bahwa prestasi tak bisa diraih secara instan.
Apakah upaya naturalisasi semata-mata karena dalam tiga pertandingan awal kualifikasi Piala Dunia 2014, Indonesia baru mencetak 2 gol dan semuanya diborong oleh penyerang kelahiran Uruguay?
Penulis Jojo Raharjo, pencinta bola, bekerja di Kompas TV.
[ad#twitter]
Awal 2007, saya duduk di bangku stadion Suncorpe, Brisbane, untuk menyaksikan pertandingan Hyundai A-League yang mempertemukan dua klub papan atas Australia, tuan rumah Queensland Roar dan Sydney FC. Pertandingan yang berakhir 1-1 itu disaksikan lebih dari 30 ribu penonton, meski suasana stadionnya tak seramai keriuhan Liga Indonesia. Hasil seri itu memupus harapan tim tuan rumah melaju ke play-off penentuan juara. Sydney FC sendiri kemudian keluar jadi juara dan berhadapan dengan jawara Liga Indonesia, Persik Kediri, di Liga Champions Asia.
Lebih empat tahun kemudian, klub kebanggaan kota terbesar ke-4 di Australia itu bangkit. Nama Queensland Roar berubah menjadi Brisbane Roar, terkait hadirnya dua klub lain dari negara bagian Queensland ke kasta tertinggi A-League, yakni Gold Coast United dan North Queensland Fury. Brisbane Roar meraih prestasi cemerlang dengan menjadi juara Liga Australia dengan mencatat rekor tak terkalahkan selama 28 pertandingan.
Sayang, prestasi moncer itu tak diikuti dengan kesehatan keuangan. Jadilah, pekan lalu, 70% saham Brisbane Roar resmi dibeli Bakrie Group. Konglomerat tanah air yang dikenal bola ini melengkapi koleksi “tim asing”-nya setelah memiliki klub Divisi II Belgia CS Vise dan SAD Uruguay. Adapun di dalam negeri, mereka sudah menanamkan kuku kuat-kuat di Pelita Jaya Karawang dan Deltras Sidoarjo. Konon, tim-tim luar negeri itu akan dijadikan pembibitan anak-anak muda pemain bola berbakat Indonesia.
Tulisan ini tak ada kaitannya dengan politisasi atau upaya memuji satu kelompok bisnis tertentu.Hanya saja, yang namanya pembinaan sepakbola harus berlangsung dalam jangka panjang. Tak ada prestasi yang dapat tercipta secara instan. Begitu tim nasional Pra Piala Dunia keok dalam tiga pertandingan berturut-turut, layakkah kemudian para penggila bola tanah air langsung meminta mundur Ketua Umum PSSI yang baru? Atau langsung menyuarakan tuntutan pemecatan pelatih Wim Rijsbergen?
Bahkan membangun Roma pun tak bisa dilakukan dalam sehari. Kita harus sabar dalam menanti prestasi sepakbola Indonesia, lewat pilar pembinaan dan kompetisi berkualitas. Tak bisa asal teriak, asal pecat, atau asal lempar petasan. Gagal lolos Piala Dunia 2014 atau bahkan seandainya belum berhasil meraih emas Sea Games XXVI, bukanlah kiamat bagi dunia sepakbola kita. Bagaimanapun, makan sesuatu secara instan ala “mie kocok” tidak lebih menyehatkan daripada mendapatkan makanan yang matang.
Sayang, di saat mencoba mengais kesabaran untuk mendapatkan prestasi tanpa lewat jalur “mie kocok”, pandangan saya tertuju kepada berita tentang pengesahan 5 pemain asing yag resmi dinaturalisasi menjadi WNI. Greg Nwokolo, Victor Igbonefo (Nigeria), Stefano Lilipaly, Jhony van Beukering dam Tonnie Cusell (Belanda) resmi diambil sumpahnya oleh Kementerian Hukum dan HAM Kanwil DKI Jakarta. Ini ironi besar di tengah upaya menghibur diri bahwa prestasi tak bisa diraih secara instan.
Apakah upaya naturalisasi semata-mata karena dalam tiga pertandingan awal kualifikasi Piala Dunia 2014, Indonesia baru mencetak 2 gol dan semuanya diborong oleh penyerang kelahiran Uruguay?
Penulis Jojo Raharjo, pencinta bola, bekerja di Kompas TV.
[ad#twitter]
Title : Prestasi Bukan Simsalabim
Description :
Description :
0 comments "Prestasi Bukan Simsalabim"