Find Other Article...
Sepakbola Dan Agama oleh @yogacholandha

Sepakbola Dan Agama oleh @yogacholandha

Posted by: Sekilas Info Updated at : Sabtu, Juli 16, 2011
Anda menyaksikan Liga Skotlandia? Sebagian besar dari anda saya yakin tidak menyaksikan atau mengikutinya. Akan tetapi, saya yakin jika And...
Anda menyaksikan Liga Skotlandia? Sebagian besar dari anda saya yakin tidak menyaksikan atau mengikutinya. Akan tetapi, saya yakin jika Anda semua sudah cukup akrab dengan nama dua klub raksasa Skotlandia asal kota Glasgow, yakni Glasgow Rangers dan Glasgow Celtic. Supaya lebih ringkas, di bagian selanjutnya, saya akan menyebut mereka Rangers dan Celtic saja. Rangers dan Celtic adalah klub tersukses dalam sejarah Liga Skotlandia. Gelar juara domestik mereka bila digabungkan menunjukkan angka 204 gelar untuk kedua klub ini. Sayang, rivalitas kedua klub ini ternyata dibumbui hal kurang sedap apabila dipandang dari sudut pandang sepakbola yang menjunjung tinggi sportsmanship atau sportivitas.

Sekitar dua bulan silam, jagad persepakbolaan Skotlandia dihebohkan dengan berita teror bom yang dialamatkan kepada pelatih yang juga mantan gelandang andalan Celtic, Neil Lennon. Neil Lennon bersama dua orang terkenal yang berhubungan dengan Celtic menjadi sasaran paket bom rumahan, namun beruntung, polisi Glasgow sigap dalam mengantisipasi kasus ini. Bom tersebut ditahan di tempat pengiriman dan diproses sesuai cara kepolisian.

Ada yang salah di sini. Kasus bom ini jelas jauh melewati batas sportsmanship yang dijunjung tinggi oleh olahraga sepakbola. Ditengarai, kasus ini menyangkut identitas yang sama sekali tidak berhubungan dengan sepakbola sebagai olahraga. Neil Lennon adalah orang Irlandia Utara yang sampai tiga hari yang lalu pun masih memiliki masalah serius dengan urusan sektarianisme. Sektarianisme merupakan suatu keadaan di mana agama menjadi sesuatu yang dipertentangkan demi suatu kepentingan tertentu.

Apabila ditelusuri, asal muasal Lennon sebagai orang Irlandia Utara ternyata sangat berpengaruh di dalam perselisihan ini. Irlandia Utara sampai saat ini masih menyimpan konflik horizontal antara warga Katolik dan Protestan. Apabila ditelusuri lagi, ini adalah permasalahan berusia ratusan tahun yang pada akhirnya berhubungan dengan status negara ini. Irlandia adalah penganut Katolik sementara warga Skotlandia merupakan penganut Protestan. Glasgow Celtic adalah representasi warga Irlandia, sementara Glasgow Rangers adalah representasi warga Inggris Skotlandia.

Masalah ini merupakan masalah politik, dengan bumbu agama, dan terjadi di ranah sepakbola. Sepakbola merupakan olahraga yang melibatkan massa dalam jumlah besar. Sudah sejak dahulu sepakbola kerap ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan politik. Apabila kita lacak sampai ke masa Pra-Perang Dunia II, kita bisa menyaksikan bagaimana Timnas Italia era Vittorio Pozzo dijadikan alat propaganda diktator fasis mereka, Benito Mussolini. Kemudian, kita bisa lihat pula apa yang dialami Argentina di Piala Dunia 1978. Jenderal Rafael Videla menggunakan sepakbola sebagai alat legitimasi kekuasaannya.

Hal-hal beresiko ini kerap menjadi bumbu yang entah membuat sepakbola menjadi semakin menarik atau justru kehilangan esensi utamanya. Sepakbola sebagai sebuah olahraga merupakan produk dari kebudayaan. Demikian pula dengan agama maupun politik. Semuanya merupakan hasil sebuah proses panjang peradaban manusia dan sesungguhnya segala hal yang terjadi dalam peradaban manusia merupakan hal-hal yang saling terkait satu sama lain.

Mari kita fokuskan pada agama. Agama merupakan salah satu hal paling fundamental yang terdapat dalam diri manusia. Manusia membutuhkan pegangan hidup dan agama lah yang menjadi pegangan hidup manusia dalam mengarungi kehidupan. Tanpa agama, sulit dibayangkan manusia dapat bertahan sejauh ini. Apapun bentuk agamanya, entah itu paganisme atau monotheisme seperti sekarang ini, itulah bentuk penalaran maksimum manusia atas fenomena dunia.

Lambat laun, agama mulai diinstusionalisasi dan dipolitisasi. Negara sebagai wadah aktivitas manusia di dunia ini menjadikan agama sebagai salah satu alat penggerak kehidupan. Beberapa negara ada yang menjadikan hukum agama sebagai hukum positif negara. Di sebagian yang lain, agama tetap menjadi nilai yang sulit dieliminasi dari kehidupan manusia. Institusionalisasi dan politisasi agama merupakan sebuah distorsi yang sejatinya menyalahi aturan. Agama adalah urusan individu dan tidak selayaknya diinstitusionalisasi maupun dipolitisasi. Adanya status "agama resmi" atau "agama yang diakui" merupakan bentuk kooptasi (pencaplokan) negara terhadap agama. Kemudian, untuk mencapai tujuan politik tertentu, sejumlah kalangan menggunakan agama sebagai sarana propaganda. Bagaimana bisa? Sangat jelas, karena kelompok agama adalah entitas berbasis massa besar.

Lantas, apa hubungan semua ini dengan sepakbola? Sepakbola dan agama merupakan dua produk peradaban. Keduanya merupakan lokus atau ruang di mana massa dalam jumlah besar terlibat di dalamnya. Di Eropa, banyak gereja yang mendirikan klub sepakbola sebagai bagian dari aktivitasnya. Manchester City dan Southampton adalah dua contoh klub yang didirikan oleh gereja setempat. Sepakbola bisa digunakan sebagai sarana dakwah untuk kelompok agama tertentu. Aktivitas olahraga merupakan aktivitas yang amat sangat fleksibel dan terbuka untuk disusupi berbagai macam kepentingan.

Sepakbola seringkali pula dipandang sebagai olahraga masyarakat kelas pekerja. Dapat dikatakan bahwa mayoritas penduduk dunia berasal dari kelas pekerja. Maka dari itu, tidak heran apabila sepakbola menjadi olahraga berbasis massa besar. Logika bertemu di sini ketika massa sepakbola bertemu dengan kepentingan politik yang mengatasnamakan agama. Suatu kepentingan politik akan tercapai apabila didukung oleh jumlah massa yang besar. Ini adalah aksioma dalam dunia politik.

Fenomena yang terjadi di Skotlandia, khususnya kota Glasgow menunjukkan adanya kecocokan logika yang kita bangun di sini. Celtic dan Rangers, dua klub terbesar Skotlandia dengan basis massa yang tidak perlu diragukan lagi kuantitasnya menjadi representasi pertarungan agama dalam sepakbola. Selain di Glasgow, persoalan agama juga menjadi seru untuk diperbincangkan apabila kita melihat kasus di kota Istanbul dan Kairo. Fenerbahce vs Galatasaray dan Al-Ahly vs Zamalek menjadi contoh lain. Untuk kedua kasus ini, fenomena yang terjadi adalah pertarungan kepentingan dan perebutan pengaruh antara Islam dan sekuler. Untuk kasus ini, nuansa politik jauh lebih terasa dibanding kasus yang terjadi di Glasgow.

Lantas bagaimana kita menyikapi fenomena ini? Saya akan menjawab, "semua terserah anda." Kebijaksanaan anda sekalian lah yang sejatinya dapat menjadi petunjuk bagi anda sendiri untuk menyikapi masalah ini. Bagi para 'ekstrimis' sepakbola, hal seperti ini tentu haram hukumnya. Akan tetapi, bagi anda yang berpikiran lebih terbuka dan mau menerima hal-hal baru, hal ini jelas akan menjadi suatu fenomena menarik yang bisa menjadi bahan pembahasan dan perdebatan di berbagai forum. Terlepas dari itu, sepakbola adalah salah satu produk peradaban terbaik yang pernah dihasilkan umat manusia. Sangat jarang ditemui suatu produk budaya yang begitu global lingkupnya seperti sepakbola. Yah, saya cinta sepakbola dan seluruh bumbu yang mewarnai perjalanannya dari dulu hingga akhir hayat saya nanti.

[ad#twitter]
Aplikasi BaBe

0 comments "Sepakbola Dan Agama oleh @yogacholandha"

Tweet

Ads

Aplikasi BaBe