Posted by:
Sekilas Info
Updated at :
Rabu, Februari 02, 2011
Tags:
hasil pertandingan
Minggu terakhir di bulan Januari 2011 ini adalah minggu yang membahagiakan tentunya bagi konsorsium Liga Primer Indonesia (LPI). Dan akan me...
Minggu terakhir di bulan Januari 2011 ini adalah minggu yang membahagiakan tentunya bagi konsorsium Liga Primer Indonesia (LPI). Dan akan menjadi catatan penting dalam perjalanan LPI. Lee Hendrie pemain yang selama satu dekade sejak pertengahan 1990an bermain di Liga Primer Inggris berhasil digaet untuk turut berlaga di LPI. Lee Hendrie akan bermain di Bandung Tigers FC dengan kontrak termahal dalam sejarah persepakbolaan Indonesia selama dua tahun. M. Kusnaeni selaku Chief Executive Officer (CEO) Bandung FC sendiri yang memperkenalkan pemain terbarunya. Hendrie akan bermain dari second line atau sebagai seorang second striker dan akan mengenakan kostum bernomor punggung 10.
Lee Hendrie yang pernah sukses berkarir di tanah britania ketika bermain bersama Aston Villa memiliki implikasi besar bagi LPI secara keseluruhan, tidak hanya bagi Bandung FC. Sebelum bergulir 8 Januari 2011, Liga Primer Indonesia (LPI) telah menjadi pembicaraan. Tak hanya karena berselisih dengan PSSI, tapi juga karena wacana untuk mendatangkan Marquee Player, pemain bertaraf internasional. Yang menjadi pembicaraan hangat adalah pemain – pemain handal di liga Top Eropa tapi sudah mulai meredup karena usia, macam Diego Tristan, Robbie Fowler, Edgar Davids, Nicky Butt, dan lainnya. Tapi hasilnya nihil. Tak ada satupun yang berhasil digaet. Alasannya pun macam – macam. Mulai dari nilai kontrak yang terlalu tinggi, keengganan pemain tersebut untuk bermain di Indonesia, ketiadaan fasilitas latihan yang baik, dan lainnya. Lantas, hanya Amaral dan Amancio Fortes yang berhasil digaet dengan statusnya sebagai marquee player. Tentu tidak terealisasinya rencana tersebut menimbulkan ketidakpercayaan pada janji – janji LPI.
Kehadiran Lee Hendrie tentu menjadi semacam jawaban sekaligus pelunasan janji LPI kepada khalayak penikmat sepakbola Indonesia. Mereka ternyata memang serius untuk menghadirkan pemain bertaraf internasional, meski Hendrie sudah mulai uzur diusia 33 tahun ini dan terlihat kurang bugar karena kelebihan berat badan. Suara sumbang mengenai kedatangan Hendrie juga berembus. Untuk apa pemain yang sudah uzur dikontrak dengan nilai kontrak yang sangat tinggi. Besaran nilai kontrak Hendrie dirahasiakan. Tapi dengan label pemain termahal di Indonesia saat ini nilainya bisa dipastikan lebih dari 3 miliar rupiah, harga pemain termahal sebelumnya yang dimiliki Amancio Fortes. Bagi yang memandang saga transfer ini dengan kacamata negatif akan beranggapan kenapa tidak dibelanjakan uang besar itu untuk beberapa pemain asing atau memperbaiki fasilitas latihan dan pertandingan yang sangat buruk di Indonesia.
Sebenarnya jika kita mau melihat sedikit lebih ke depan, kehadiran Lee Hendrie ini bisa menjadi hal yang sangat positif bagi persepakbolaan Indonesia. Kehadiran pemain asing di Indonesia sudah mulai sejak era Galatama. Presiden Soeharto ketika itu menyetujui saran PSSI untuk mendatangkan pemain asing. Alasan yang membuat presiden sepakat adalah pemain asing akan berguna untuk transfer ilmu. Maksudnya pemain asing akan menularkan pengetahuan olah bola dan iklim kompetitif pada pemain lokal di Liga. Dampak lainnya tentu kehadiran pemain asing bisa menarik minat penonton untuk memenuhi stadion – stadion yang ketika itu belum begitu sesak oleh supporter seperti saat ini. Seperti saat Pelita Bakrie mendatangkan Mario Kempes eks kapten Argentina di Piala Dunia 1978 ketika mereka menjadi juara.
Namun sejauh ini kiprah pemain asing yang berlaga di berbagai divisi di Indonesia memberikan lebih banyak dampak buruk dibanding implikasi positif. Kuota lima pemain asing (kini dengan skema 3 bebas – 2 dari Asia&Australia) telah menghambat pemain lokal untuk masuk ke dalam tim utama. Menit bermain yang sedikit tentu memberikan efek yang tidak baik bagi perkembangan pemain lokal, terutama para pemain muda. Perilaku mereka jauh dari kesan profesional. Sering memancing keributan dalam pertandingan maupun berperilaku kasar terhadap lawan dan tidak disiplin. Dengan bayaran kontrak yang jauh lebih tinggi dari pemain lokal mereka tak memiliki integritas dan skill permainan yang tidak terlalu baik dengan pemain kita, meski tidak sedikit pemain asing yang berperilaku baik dan berskill mumpuni. Bagaimanapun, sejauh ini transfer ilmu yang diharapkan tidak sesuai ekspektasi. Yang lebih mengkhawatirkan adalah fakta bahwa beberapa pemain asing bisa disuap, seperti dalam laporan majalah Tempo bertema “Korupssi”.
Di sinilah kemudian peran besar Lee Hendrie dibutuhkan. Profesionalisme sebagai pesepakbola rasanya tak perlu diragukan lagi. Dia bisa menjadi teladan untuk menerapkan integritas, komitmen, dan kedisiplinan bagi setiap pemain yang berlagadi Indonesia, terutama untuk para pemain muda. Pengalamannya di Eropa juga bisa dimanfaatkan untuk membantu pembinaan usia muda di Indonesia dan peningkatan kualitas fasilitas sepakbola, seperti tempat latihan, kualitas lapangan, maupun sport science. Nilai plus Hendrie dalam waktu dekat ini tentu sebagai ambassador LPI agar lebih dikenal masyarakat luas, baik Indonesia maupun di mancanegara.
Mari kita tunggu bagaimana kiprah Lee Hendrie di lapangan bersama Bandung FC dan perannya di luar lapangan untuk sepakbola Indonesia. Ada secercah harapan bahwa dia ke sini tidak hanya untuk mengambil keuntungan secara materi bagi dirinya, namun lebih dari itu dia akan memberikan efek positif bagi sepakbola Indonesia secara keseluruhan.
Oleh Sirajudin Hasbi
@Hasbisy
Lee Hendrie yang pernah sukses berkarir di tanah britania ketika bermain bersama Aston Villa memiliki implikasi besar bagi LPI secara keseluruhan, tidak hanya bagi Bandung FC. Sebelum bergulir 8 Januari 2011, Liga Primer Indonesia (LPI) telah menjadi pembicaraan. Tak hanya karena berselisih dengan PSSI, tapi juga karena wacana untuk mendatangkan Marquee Player, pemain bertaraf internasional. Yang menjadi pembicaraan hangat adalah pemain – pemain handal di liga Top Eropa tapi sudah mulai meredup karena usia, macam Diego Tristan, Robbie Fowler, Edgar Davids, Nicky Butt, dan lainnya. Tapi hasilnya nihil. Tak ada satupun yang berhasil digaet. Alasannya pun macam – macam. Mulai dari nilai kontrak yang terlalu tinggi, keengganan pemain tersebut untuk bermain di Indonesia, ketiadaan fasilitas latihan yang baik, dan lainnya. Lantas, hanya Amaral dan Amancio Fortes yang berhasil digaet dengan statusnya sebagai marquee player. Tentu tidak terealisasinya rencana tersebut menimbulkan ketidakpercayaan pada janji – janji LPI.
Kehadiran Lee Hendrie tentu menjadi semacam jawaban sekaligus pelunasan janji LPI kepada khalayak penikmat sepakbola Indonesia. Mereka ternyata memang serius untuk menghadirkan pemain bertaraf internasional, meski Hendrie sudah mulai uzur diusia 33 tahun ini dan terlihat kurang bugar karena kelebihan berat badan. Suara sumbang mengenai kedatangan Hendrie juga berembus. Untuk apa pemain yang sudah uzur dikontrak dengan nilai kontrak yang sangat tinggi. Besaran nilai kontrak Hendrie dirahasiakan. Tapi dengan label pemain termahal di Indonesia saat ini nilainya bisa dipastikan lebih dari 3 miliar rupiah, harga pemain termahal sebelumnya yang dimiliki Amancio Fortes. Bagi yang memandang saga transfer ini dengan kacamata negatif akan beranggapan kenapa tidak dibelanjakan uang besar itu untuk beberapa pemain asing atau memperbaiki fasilitas latihan dan pertandingan yang sangat buruk di Indonesia.
Sebenarnya jika kita mau melihat sedikit lebih ke depan, kehadiran Lee Hendrie ini bisa menjadi hal yang sangat positif bagi persepakbolaan Indonesia. Kehadiran pemain asing di Indonesia sudah mulai sejak era Galatama. Presiden Soeharto ketika itu menyetujui saran PSSI untuk mendatangkan pemain asing. Alasan yang membuat presiden sepakat adalah pemain asing akan berguna untuk transfer ilmu. Maksudnya pemain asing akan menularkan pengetahuan olah bola dan iklim kompetitif pada pemain lokal di Liga. Dampak lainnya tentu kehadiran pemain asing bisa menarik minat penonton untuk memenuhi stadion – stadion yang ketika itu belum begitu sesak oleh supporter seperti saat ini. Seperti saat Pelita Bakrie mendatangkan Mario Kempes eks kapten Argentina di Piala Dunia 1978 ketika mereka menjadi juara.
Namun sejauh ini kiprah pemain asing yang berlaga di berbagai divisi di Indonesia memberikan lebih banyak dampak buruk dibanding implikasi positif. Kuota lima pemain asing (kini dengan skema 3 bebas – 2 dari Asia&Australia) telah menghambat pemain lokal untuk masuk ke dalam tim utama. Menit bermain yang sedikit tentu memberikan efek yang tidak baik bagi perkembangan pemain lokal, terutama para pemain muda. Perilaku mereka jauh dari kesan profesional. Sering memancing keributan dalam pertandingan maupun berperilaku kasar terhadap lawan dan tidak disiplin. Dengan bayaran kontrak yang jauh lebih tinggi dari pemain lokal mereka tak memiliki integritas dan skill permainan yang tidak terlalu baik dengan pemain kita, meski tidak sedikit pemain asing yang berperilaku baik dan berskill mumpuni. Bagaimanapun, sejauh ini transfer ilmu yang diharapkan tidak sesuai ekspektasi. Yang lebih mengkhawatirkan adalah fakta bahwa beberapa pemain asing bisa disuap, seperti dalam laporan majalah Tempo bertema “Korupssi”.
Di sinilah kemudian peran besar Lee Hendrie dibutuhkan. Profesionalisme sebagai pesepakbola rasanya tak perlu diragukan lagi. Dia bisa menjadi teladan untuk menerapkan integritas, komitmen, dan kedisiplinan bagi setiap pemain yang berlagadi Indonesia, terutama untuk para pemain muda. Pengalamannya di Eropa juga bisa dimanfaatkan untuk membantu pembinaan usia muda di Indonesia dan peningkatan kualitas fasilitas sepakbola, seperti tempat latihan, kualitas lapangan, maupun sport science. Nilai plus Hendrie dalam waktu dekat ini tentu sebagai ambassador LPI agar lebih dikenal masyarakat luas, baik Indonesia maupun di mancanegara.
Mari kita tunggu bagaimana kiprah Lee Hendrie di lapangan bersama Bandung FC dan perannya di luar lapangan untuk sepakbola Indonesia. Ada secercah harapan bahwa dia ke sini tidak hanya untuk mengambil keuntungan secara materi bagi dirinya, namun lebih dari itu dia akan memberikan efek positif bagi sepakbola Indonesia secara keseluruhan.
Oleh Sirajudin Hasbi
@Hasbisy
Title : Lee Hendrie dan Transfer Ilmu untuk Sepakbola Indonesia by @Hasbisy
Description :
Description :
1 comments "Lee Hendrie dan Transfer Ilmu untuk Sepakbola Indonesia by @Hasbisy"
[...] This post was mentioned on Twitter by annisa maharani, suporter indonesia and Rakha Muhamad Fauzan, Rakha M. Fuzan. Rakha M. Fuzan said: #infoBOLA Lee Hendrie dan Transfer Ilmu untuk Sepakbola Indonesia by @Hasbisy: Minggu terakhir di bulan Januari ... http://bit.ly/hnadMV [...]
Balas