Posted by:
Sekilas Info
Updated at :
Jumat, Januari 07, 2011
Tags:
pssi ipl
Akhir-akhir marak pembahasan dan diskusi tentang munculnya Indonesia Premier League (IPL) atau Liga Primer Indonesia yang digagas dan dilunc...
Akhir-akhir marak pembahasan dan diskusi tentang munculnya Indonesia Premier League (IPL) atau Liga Primer Indonesia yang digagas dan diluncurkan oleh Arifin Panigoro, Arya Abhiseka dkk yang kemudian ditanggapi antusias oleh masyarakat yang telah bosan dan muak dengan prestasi timnas Indonesia produk PSSI dan Kompetisi ISL yang terkesan amburadul.
Tentunya kesan gairah awal dari para masyarakat perlu dilandasi dengan perbandingan konsep dari IPL & ISL tersebut agar mimpi tersebut bukan hanya sekedar mimpi indah belaka. Kita semua wajib secara jelas dan membedah bagaimana plus minusnya IPL bila dibandingkan dengan Indonesia Super League (ISL) atau Liga Super Indonesia yang dikomandoi oleh Djoko Driyono, Andi Darussalam Tabussala dkk di Badan Liga Indonesia (BLI).
Tujuan dicetuskannya IPL tersebut seperti yang dipublikasikan oleh beberapa media adalah untuk memperbaiki kualitas kompetisi sepakbola nasional saat ini dan bukanlah untuk menggulingkan kekuasaan Nurdin Halid dkk dari tampuk kekuasaan nya di PSSI. Namun ternyata alasan tersebut tidak serta merta digubris oleh PSSI yang akhirnya terlihat “kebakaran jenggot” sehingga mengeluarkan statement keras yang mengandung ancaman kepada seluruh klub, pemain, pelatih dengan sanksi mulai dari pencabutan izin, sampai dengan deportasi bagi pemain asing yang berlaga di IPL.
Sebetulnya hal tersebut malah menunjukkan bahwa, eksistensi PSSI dengan BLI nya tersaingi oleh potensi dan ide-ide serta konsep segar dan menarik yang ditawarkan oleh pengelola IPL kepada para klub yang berlaga di ISL, Divisi Utama s/d Divisi 1. Beberapa hal berikut ini dapat menjadi bahan perbandingan keunggulan dan kelemahan IPL dan ISL, yaitu :
1. Kepemilikan Saham, pada kompetisi ISL saham dimiliki oleh 95% oleh PSSI, 5% oleh Yayasan dan Klub NIHIL. Sedangkan pada IPL seluruh saham 100% dimiliki oleh Klub.
2. Pembagian Hak Siar TV, pada kompetisi ISL seluruhnya menjadi hak PSSI/ BLI, sedangkan pada IPL seluruhnya akan dibagi rata kepada Klub 100%.
3. Dana Sponsor, sebesar Rp. 41,5 milyar yang di dapat dari Djarum pada kompetisi ISL menjadi milik PSSI dan BLI, klub hanya akan mendapatkan dana subsidi sebesar Rp. 300 s/d Rp.500 juta dan pembagian keuntungan bagi klub adalah 0%, sedangkan pada IPL setiap klub akan mendapat dana investasi dari Konsorsium Investor Rp. 15 s/d 20 milyar per klub dan pembagian keuntungan akan diberikan kepada klub sebesar 80%.
4. Hadiah Juara, pada pada kompetisi ISL adalah sebesar Rp.1,5 milyar sedangkan pada LPI adalah sebesar Rp. 5 Milyar.
5. Dana APBD, pada kompetisi ISL masih diperbolehkan, sedangkan pada IPL klub wajib professional dengan memutar sumber dana dari Konsorsium Investor.
6. Wasit, pada kompetisi ISL masih menggunakan wasit lokal sedangkan pada IPL selama 2 tahun awal kompetisi akan menggunakan wasit asing.
Kalau melihat data perbandingan diatas, mungkin secara kasat mata kita pasti akan mengatakan bahwa IPL tentunya lebih menarik dan unggul dari ISL, tapi hal tersebut perlu diperdalam lagi kalau kita melihat segi masa persiapan yang terkesan singkat sehingga terkesan terburu-buru, pengalaman mengurus kompetisi, muara juara kompetisi IPL yang tak jelas di turnamen Internasional, hadangan izin serta ancaman kepada klub-pemain-pelatih dari PSSI dan janji yang terkesan bombastis dari pengelola IPL sehingga menjadi beban untuk diwujudkan dengan baik.
Konsep yang ditawarkan oleh IPL dari segi pembiayaan yang me-nihil-kan APBD sangat sejalan dengan prinsip profesionalisme dan kemandirian klub dalam ketergantungan penghisapan dana rakyat di APBD. Tentunya dengan 100% nya klub, maka diharapkan dana tersebut dapat disalurkan oleh Pemda untuk perbaikan fasilitas olahraga, pembinaan atlet usia muda hingga jaminan asuransi bagi para atlet.
Penggunaan Wasit Asing yang diusung oleh pengelola IPL diharapkan bukan untuk menghilangkan penghasilan bagi para wasit local, tetapi seharusnya dianggap sebagai peluang untuk meningkatkan skill dan kompetensi baik dari sisi teknis, mental dan pengetahuan dari para wasit asing. Pemilihan wasit asing, oleh pengelola IPL juga wajib mengutamakan prinsip pemilihan wasit yang kredibel, berlisensi, bermental tegas serta kuat memegang prinsip sesuap rule of the game dan berpengalaman, bukan hanya sekedar bermodal tampang bule belaka.
Pemilihan wasit asing ini tentunya dari sisi pemain lebih diterima dengan baik, dengan alasan aspek psikologis bahwa pemain local akan lebih respek, segan berdebat dengan wasit asing karena keterbatasan bahasa dll. Pemikiran pemain yang tertanam sebelum laga diselenggarakan bahwa pertandingan tidak berjalan berat sebelah pada setiap laga tandang dan tentunya pikiran negative tersebut dapat di eliminir dengan hadirnya wasit asing, dan diharapkan pemain lebih terbuka menerima atas tindakan tegas dari wasit atas setiap pelanggaran yang terjadi.
Apabila setiap pertandingan pemain, pelatih dan klub tidak terlampau sering memprotes setiap keputusan wasit, tentunya diharapkan hal positif tersebut menular secara langsung kepada penonton dan supporter yang hadir di stadion. Kerusuhan yang dilakukan oleh penonton atau supporter dapat dieliminir dengan pertandingan yang relative lancar tanpa protes provokatif dari pemain dan pelatih.
Sebenarnya kalau pihak PSSI dan BLI (yang membawa konsep ISL) bersikap ksatria dan gentle maka mereka harus secara legowo berani menerima tantangan untuk beradu secara sportif dan kreatifitas dengan para pengelola IPL. Hadirnya IPL bukanlah dicounter dengan keluarnya ancaman dan statement keras, tetapi dengan hadirnya IPL malah menjadikan energy kompetisi persaingan sehat untuk membenahi tudingan miring yang kerap digelontorkan kepada ISL mulai dari wasit yang disuap, kerusuhan supporter, hukuman yang mudah didiskon hingga tudingan praktek pengaturan juara kompetisi.
Kalau semua hal ideal itu terjadi maka, semua stakeholder sepakbola nasional bisa berharap bahwa yang terbaik akan muncul dari hasil persaingan sehat antar dua konsep kompetisi diatas, sehingga konsep “hukum alam” akan muncul yaitu yang terbaiklah akan bertahan dan diterima pasar.
Penulis,
Panji Kartiko
Warga Sepakbola Indonesia
Tentunya kesan gairah awal dari para masyarakat perlu dilandasi dengan perbandingan konsep dari IPL & ISL tersebut agar mimpi tersebut bukan hanya sekedar mimpi indah belaka. Kita semua wajib secara jelas dan membedah bagaimana plus minusnya IPL bila dibandingkan dengan Indonesia Super League (ISL) atau Liga Super Indonesia yang dikomandoi oleh Djoko Driyono, Andi Darussalam Tabussala dkk di Badan Liga Indonesia (BLI).
Tujuan dicetuskannya IPL tersebut seperti yang dipublikasikan oleh beberapa media adalah untuk memperbaiki kualitas kompetisi sepakbola nasional saat ini dan bukanlah untuk menggulingkan kekuasaan Nurdin Halid dkk dari tampuk kekuasaan nya di PSSI. Namun ternyata alasan tersebut tidak serta merta digubris oleh PSSI yang akhirnya terlihat “kebakaran jenggot” sehingga mengeluarkan statement keras yang mengandung ancaman kepada seluruh klub, pemain, pelatih dengan sanksi mulai dari pencabutan izin, sampai dengan deportasi bagi pemain asing yang berlaga di IPL.
Sebetulnya hal tersebut malah menunjukkan bahwa, eksistensi PSSI dengan BLI nya tersaingi oleh potensi dan ide-ide serta konsep segar dan menarik yang ditawarkan oleh pengelola IPL kepada para klub yang berlaga di ISL, Divisi Utama s/d Divisi 1. Beberapa hal berikut ini dapat menjadi bahan perbandingan keunggulan dan kelemahan IPL dan ISL, yaitu :
1. Kepemilikan Saham, pada kompetisi ISL saham dimiliki oleh 95% oleh PSSI, 5% oleh Yayasan dan Klub NIHIL. Sedangkan pada IPL seluruh saham 100% dimiliki oleh Klub.
2. Pembagian Hak Siar TV, pada kompetisi ISL seluruhnya menjadi hak PSSI/ BLI, sedangkan pada IPL seluruhnya akan dibagi rata kepada Klub 100%.
3. Dana Sponsor, sebesar Rp. 41,5 milyar yang di dapat dari Djarum pada kompetisi ISL menjadi milik PSSI dan BLI, klub hanya akan mendapatkan dana subsidi sebesar Rp. 300 s/d Rp.500 juta dan pembagian keuntungan bagi klub adalah 0%, sedangkan pada IPL setiap klub akan mendapat dana investasi dari Konsorsium Investor Rp. 15 s/d 20 milyar per klub dan pembagian keuntungan akan diberikan kepada klub sebesar 80%.
4. Hadiah Juara, pada pada kompetisi ISL adalah sebesar Rp.1,5 milyar sedangkan pada LPI adalah sebesar Rp. 5 Milyar.
5. Dana APBD, pada kompetisi ISL masih diperbolehkan, sedangkan pada IPL klub wajib professional dengan memutar sumber dana dari Konsorsium Investor.
6. Wasit, pada kompetisi ISL masih menggunakan wasit lokal sedangkan pada IPL selama 2 tahun awal kompetisi akan menggunakan wasit asing.
Kalau melihat data perbandingan diatas, mungkin secara kasat mata kita pasti akan mengatakan bahwa IPL tentunya lebih menarik dan unggul dari ISL, tapi hal tersebut perlu diperdalam lagi kalau kita melihat segi masa persiapan yang terkesan singkat sehingga terkesan terburu-buru, pengalaman mengurus kompetisi, muara juara kompetisi IPL yang tak jelas di turnamen Internasional, hadangan izin serta ancaman kepada klub-pemain-pelatih dari PSSI dan janji yang terkesan bombastis dari pengelola IPL sehingga menjadi beban untuk diwujudkan dengan baik.
Konsep yang ditawarkan oleh IPL dari segi pembiayaan yang me-nihil-kan APBD sangat sejalan dengan prinsip profesionalisme dan kemandirian klub dalam ketergantungan penghisapan dana rakyat di APBD. Tentunya dengan 100% nya klub, maka diharapkan dana tersebut dapat disalurkan oleh Pemda untuk perbaikan fasilitas olahraga, pembinaan atlet usia muda hingga jaminan asuransi bagi para atlet.
Penggunaan Wasit Asing yang diusung oleh pengelola IPL diharapkan bukan untuk menghilangkan penghasilan bagi para wasit local, tetapi seharusnya dianggap sebagai peluang untuk meningkatkan skill dan kompetensi baik dari sisi teknis, mental dan pengetahuan dari para wasit asing. Pemilihan wasit asing, oleh pengelola IPL juga wajib mengutamakan prinsip pemilihan wasit yang kredibel, berlisensi, bermental tegas serta kuat memegang prinsip sesuap rule of the game dan berpengalaman, bukan hanya sekedar bermodal tampang bule belaka.
Pemilihan wasit asing ini tentunya dari sisi pemain lebih diterima dengan baik, dengan alasan aspek psikologis bahwa pemain local akan lebih respek, segan berdebat dengan wasit asing karena keterbatasan bahasa dll. Pemikiran pemain yang tertanam sebelum laga diselenggarakan bahwa pertandingan tidak berjalan berat sebelah pada setiap laga tandang dan tentunya pikiran negative tersebut dapat di eliminir dengan hadirnya wasit asing, dan diharapkan pemain lebih terbuka menerima atas tindakan tegas dari wasit atas setiap pelanggaran yang terjadi.
Apabila setiap pertandingan pemain, pelatih dan klub tidak terlampau sering memprotes setiap keputusan wasit, tentunya diharapkan hal positif tersebut menular secara langsung kepada penonton dan supporter yang hadir di stadion. Kerusuhan yang dilakukan oleh penonton atau supporter dapat dieliminir dengan pertandingan yang relative lancar tanpa protes provokatif dari pemain dan pelatih.
Sebenarnya kalau pihak PSSI dan BLI (yang membawa konsep ISL) bersikap ksatria dan gentle maka mereka harus secara legowo berani menerima tantangan untuk beradu secara sportif dan kreatifitas dengan para pengelola IPL. Hadirnya IPL bukanlah dicounter dengan keluarnya ancaman dan statement keras, tetapi dengan hadirnya IPL malah menjadikan energy kompetisi persaingan sehat untuk membenahi tudingan miring yang kerap digelontorkan kepada ISL mulai dari wasit yang disuap, kerusuhan supporter, hukuman yang mudah didiskon hingga tudingan praktek pengaturan juara kompetisi.
Kalau semua hal ideal itu terjadi maka, semua stakeholder sepakbola nasional bisa berharap bahwa yang terbaik akan muncul dari hasil persaingan sehat antar dua konsep kompetisi diatas, sehingga konsep “hukum alam” akan muncul yaitu yang terbaiklah akan bertahan dan diterima pasar.
Penulis,
Panji Kartiko
Warga Sepakbola Indonesia
Title : ISL vs IPL oleh panji kartiko
Description :
Description :
10 comments "ISL vs IPL oleh panji kartiko"
joss
BalasMoga2 LPI benar2 bertujuan mulia demi profesionalisme dan kemajuan sepakbola Indonesia, bukan semata dendam antar raja minyak..
Balas.-= jojo´s last blog .. =-.
pokoknya kalau oposisi sama nurdin silid, kmi para suporter pasti dukung lah!! golkar jangan bela nurdin lagi kalau gak mau dimusuhin seluruh suporter seindonesia di 2014 nanti. camkan itu golkar!!
Balas[...] This post was mentioned on Twitter by DoNi Chris, M Zulham Farobi, Taufiq Hidayatulloh, Herfano Effendi, m.novi verdiansyah and others. m.novi verdiansyah said: ISL vs IPL oleh panji kartiko | infosuporter http://t.co/O4XSK1y via @wibiya [...]
Balaspecat nurdin halid, nugraha tak becus, andi darusalam tabusala!!! golkar jangan lindungin mereka, atau rakyat akan memboikot di pemilu 2014.. camkan itu ical !!!
BalasGANYANG NURDIN..!!
BalasNURDIN DJANCOEK DIBUNUH SAJA !! AWAS KAU ABURIZAL BAKRIE KALAU MASIH DUKUNG NURDIN LAGI, KAMI PARA SUPORTER SIAP KAMPANYE ANTI GOLKAR DI 2014. REVOLUSI PSSI SEKARANG JUGA!!!!
Balasgantung ja tu si nurdin and abu rizal bakri
BalasANJING PSSI NGURUS WASIT AJA GA BECUS ..
BalasMENDING LPI DARIPADA ISL ..
PSSI KAYA TAI DITANGAN SI NURDIN ..
drpd ribut antar suporter mendingan tuh ribut sama pengurus pssi dan pengda, kalau perlu di seeping dan gebugkin tuh pengurus pssi anjing
Balas