Posted by:
Sekilas Info
Updated at :
Kamis, Januari 20, 2011
Tags:
hasil pertandingan
Kita tidak (belum) pantas untuk bisa berlaga di Piala Dunia. Ya, kita memang belum pantas untuk bisa bermain di pentas sepakbola internasion...
Kita tidak (belum) pantas untuk bisa berlaga di Piala Dunia. Ya, kita memang belum pantas untuk bisa bermain di pentas sepakbola internasional semegah dan sebesar Piala Dunia. Bagi saya mimpi untuk bisa tampil di perhelatan empat tahunan itu adalah mustahil, hanya sekedar mimpi tak lebih. Jika anda ingin tampil di kejuaraan itu, jangan anggap runner-up Piala AFF sebagai prestasi yang membanggakan. Jangan cepat berpuas diri hanya karena bisa mengalahkan Laos 6-0, negeri yang sudah biasa kita kalahkan di tahun – tahun sebelumnya.
Untuk bisa berlaga di event sebesar Piala Dunia, tak hanya soal teknis bermain sepakbola. Lebih dari itu, kita harus memiliki bekal yang kuat secara mental. Sikap profesional dalam sepakbola harus benar – benar diaplikasikan. Ini tidak hanya soal pengelolaan kompetisi dan klub yang bebas dari APBD. Tapi, juga harus tertanam dalam sikap dan mental setiap pemain sepakbola kita.
Setiap insan yang berkecimpung di dunia persepakbolaan tanah air sudah sepatutnya untuk bersikap profesional. Saya prihatin pada mental sebagian besar pemain sepakbola nasional yang berlaga di kompetisi dalam negeri. Satu kasus paling mutakhir dilakukan oleh punggawa Merah Putih. Oktovianus Maniani, pemain pemakai jersey nomer 10 di tim nasional ini berperilaku tidak pantas dalam salah satu Liga Super Indonesia beberapa hari lalu. Okto yang membela Sriwijaya melawat ke kandang Persisam Samarinda, 16 Januari 2011 lalu. Turun sebagai pemain pengganti, Okto diharapkan pelatih Ivan Kolev bisa membantu tim untuk bangkit dari ketertinggalan. Namun, kepercayaan itu dibalas dengan sikap yang sungguh sangat tidak profesional. Baru delapan menit di lapangan dia berperilaku buruk dengan menanduk kepala wasit Dwi Putra setelah sebelumnya melakukan protes keras. Wajar jika kemudian dia diganjar kartu merah. Dia pemain kaliber nasional, penghuni skuad inti timnas Garuda, tapi perangainya mirip dengan pemain tarkam (antar kampung). Sangat jauh dari kesan profesional. Kolev yang berang mengecapnya tidak profesional. Akibat ulahnya, Sriwijaya kalah 1-4 dari Persisam. Dia diancam sanksi berat.
Menjadi pesepakbola adalah sebuah prpfesi. Sikap profesional mutlak anda miliki dalam setiap sikap. Anda dituntut untuk berlaku sesuai dengan ketentuan yang ada, saling menghormati pada setiap insan yang terlibat, terlebih pada sang pengadil di lapangan. Kalaupun Okto melakukannya karena kesal dengan wasit yang selama pertandingan dianggap memihak tim tuan rumah tetap itu bukan hal yang bisa dibenarkan. Sepakbola adalah persoalan respect, saling menghormati siapa pun yang menjadi lawan maupun kawan dan tentunya wasit yang memegang kendali dalam jalannya sebuah pertandingan. Tanpa respek, apalah artinya sebuah pertandingan sepakbola, bisa – bisa lapangan hijau berubah jadi arena perkelahian massal antar pemain.
Jika rekan – rekan saya sangat antusias dengan rekomendasi ESPN bahwa Okto adalah pemain Asia yang sangat mungkin dan pantas bermain di Liga Eropa, saya hanya menyikapinya dengan datar. Saya menilai dia tidak memiliki mental yang cukup kuat untuk bisa bermain di level yang tinggi dan menuntut profesionalisme bagi setiap pihak yang terlibat, apapun statusnya. Hal yang terbukti benar jika berpatokan pada laga Persisam vs Sriwijaya tersebut. Hari minggu lalu, ketika bigmatch EPL Totenham Hotspurs vs Manchester United, ada pula kejadian yang menarik. Rafael Da Silva yang bermain bagus justru harus mengakhiri pertandingan terlebih dahulu karena mendapatkan kartu kuning kedua yang berarti kartu merah dari wasit David Dean. Rafael dianggap melakukan pelanggaran berbahaya pada Wilson Palacious. Bagi saya dan sebagian pengamat kejadian itu pure accidental, bukan sesuatu yang disengaja dan tidak pantas diganjar kartu kuning. Tentu Rafael pantas kecewa, tapi dia “hanya” meluapkan kekecewaannya dengan mimik tidak suka dan sedikit memprotes keputusan wasit. Tidak lebih, tidak pula melakukan kontak pada wasit atau bahkan sampai menanduk. Dia kecewa tapi dia tetap bersikap profesional dan respect pada sang pengadil.
Di sinilah yang harus dipelajari pemain sepakbola kita, tak hanya Okto, tapi juga setiap pemain yang berlaga di kompetisi Liga Indonesia, baik Liga Super maupun Liga Primer, dan divisi – divisi di bawahnya. Untuk maju, bersikaplah profesional, apapun status dan posisi anda dalam persepakbolaan negeri ini. Okto, anda masih sangat muda, anda masih bisa terus berkembang. Bersikaplah lebih profesional dan menghormati siapapun, percayalah anda bisa maju jika anda meninggalkan perangai buruk anda.
Oleh Sirajudin Hasbi (@Hasbisy)
Untuk bisa berlaga di event sebesar Piala Dunia, tak hanya soal teknis bermain sepakbola. Lebih dari itu, kita harus memiliki bekal yang kuat secara mental. Sikap profesional dalam sepakbola harus benar – benar diaplikasikan. Ini tidak hanya soal pengelolaan kompetisi dan klub yang bebas dari APBD. Tapi, juga harus tertanam dalam sikap dan mental setiap pemain sepakbola kita.
Setiap insan yang berkecimpung di dunia persepakbolaan tanah air sudah sepatutnya untuk bersikap profesional. Saya prihatin pada mental sebagian besar pemain sepakbola nasional yang berlaga di kompetisi dalam negeri. Satu kasus paling mutakhir dilakukan oleh punggawa Merah Putih. Oktovianus Maniani, pemain pemakai jersey nomer 10 di tim nasional ini berperilaku tidak pantas dalam salah satu Liga Super Indonesia beberapa hari lalu. Okto yang membela Sriwijaya melawat ke kandang Persisam Samarinda, 16 Januari 2011 lalu. Turun sebagai pemain pengganti, Okto diharapkan pelatih Ivan Kolev bisa membantu tim untuk bangkit dari ketertinggalan. Namun, kepercayaan itu dibalas dengan sikap yang sungguh sangat tidak profesional. Baru delapan menit di lapangan dia berperilaku buruk dengan menanduk kepala wasit Dwi Putra setelah sebelumnya melakukan protes keras. Wajar jika kemudian dia diganjar kartu merah. Dia pemain kaliber nasional, penghuni skuad inti timnas Garuda, tapi perangainya mirip dengan pemain tarkam (antar kampung). Sangat jauh dari kesan profesional. Kolev yang berang mengecapnya tidak profesional. Akibat ulahnya, Sriwijaya kalah 1-4 dari Persisam. Dia diancam sanksi berat.
Menjadi pesepakbola adalah sebuah prpfesi. Sikap profesional mutlak anda miliki dalam setiap sikap. Anda dituntut untuk berlaku sesuai dengan ketentuan yang ada, saling menghormati pada setiap insan yang terlibat, terlebih pada sang pengadil di lapangan. Kalaupun Okto melakukannya karena kesal dengan wasit yang selama pertandingan dianggap memihak tim tuan rumah tetap itu bukan hal yang bisa dibenarkan. Sepakbola adalah persoalan respect, saling menghormati siapa pun yang menjadi lawan maupun kawan dan tentunya wasit yang memegang kendali dalam jalannya sebuah pertandingan. Tanpa respek, apalah artinya sebuah pertandingan sepakbola, bisa – bisa lapangan hijau berubah jadi arena perkelahian massal antar pemain.
Jika rekan – rekan saya sangat antusias dengan rekomendasi ESPN bahwa Okto adalah pemain Asia yang sangat mungkin dan pantas bermain di Liga Eropa, saya hanya menyikapinya dengan datar. Saya menilai dia tidak memiliki mental yang cukup kuat untuk bisa bermain di level yang tinggi dan menuntut profesionalisme bagi setiap pihak yang terlibat, apapun statusnya. Hal yang terbukti benar jika berpatokan pada laga Persisam vs Sriwijaya tersebut. Hari minggu lalu, ketika bigmatch EPL Totenham Hotspurs vs Manchester United, ada pula kejadian yang menarik. Rafael Da Silva yang bermain bagus justru harus mengakhiri pertandingan terlebih dahulu karena mendapatkan kartu kuning kedua yang berarti kartu merah dari wasit David Dean. Rafael dianggap melakukan pelanggaran berbahaya pada Wilson Palacious. Bagi saya dan sebagian pengamat kejadian itu pure accidental, bukan sesuatu yang disengaja dan tidak pantas diganjar kartu kuning. Tentu Rafael pantas kecewa, tapi dia “hanya” meluapkan kekecewaannya dengan mimik tidak suka dan sedikit memprotes keputusan wasit. Tidak lebih, tidak pula melakukan kontak pada wasit atau bahkan sampai menanduk. Dia kecewa tapi dia tetap bersikap profesional dan respect pada sang pengadil.
Di sinilah yang harus dipelajari pemain sepakbola kita, tak hanya Okto, tapi juga setiap pemain yang berlaga di kompetisi Liga Indonesia, baik Liga Super maupun Liga Primer, dan divisi – divisi di bawahnya. Untuk maju, bersikaplah profesional, apapun status dan posisi anda dalam persepakbolaan negeri ini. Okto, anda masih sangat muda, anda masih bisa terus berkembang. Bersikaplah lebih profesional dan menghormati siapapun, percayalah anda bisa maju jika anda meninggalkan perangai buruk anda.
Oleh Sirajudin Hasbi (@Hasbisy)
Title : Bersikaplah Profesional (okto) - oleh @Hasbisy
Description :
Description :
1 comments "Bersikaplah Profesional (okto) - oleh @Hasbisy"
[...] This post was mentioned on Twitter by Sirajudin Hasbi, Cak Bal, Rakha Muhamad Fauzan and others. Rakha Muhamad Fauzan said: #infoBOLA Bersikaplah Profesional (okto) – oleh @Hasbisy: Kita tidak (belum) pantas untuk bisa berlaga di Piala... http://bit.ly/fyH1ND [...]
Balas