Find Other Article...
belajar dari kisah Nasri dengan Gallas

belajar dari kisah Nasri dengan Gallas

Posted by: Sekilas Info Updated at : Jumat, November 26, 2010
“ Rasa Hormat Harus Timbal Balik “ Arsenal menyerah kepada Totenham Hotspurs 2 – 3 di Emirates Stadium sabtu, 20 November 2010. Derby London...
“ Rasa Hormat Harus Timbal Balik “

Arsenal menyerah kepada Totenham Hotspurs 2 – 3 di Emirates Stadium sabtu, 20 November 2010. Derby London Utara tersebut berlangsung menarik dengan Arsenal lebih dulu unggul 2 – 0 di babak pertama melalui Samir Nasri dan Maouraen Chamakh. Totenham bangkit di babak kedua. Garet Bale dan Rafael Van der Vaart menginspirasi timnya untuk berbalik unggul 3 – 2 dan meraih kemenangan pertama di kandang musuh bebuyutannya itu setelah 17 tahun. Dibalik laga yang super menegangkan itu, tersimpan kisah menarik antara anak muda dan seniornya.

Samir Nasri adalah angkatan muda Prancis, yang bersama dengan kompatriotnya Karim Benzema menjadi wakil angkatan 1987 yang menjanjikan bagi tim nasional Les Blues. William Gallas yang bisa bermain di beberapa posisi lini belakang adalah senior Nasri di timnas. Sebagai pemain yang dianugerahi skill bermain bola mumpuni ternyata mereka gagal bersinergi di level internasional. Ada kisah tak mengenakkan di tubuh tim ayam jantan ketika mereka mengikuti Piala Eropa 2008 yang menjalar hingga hari ini.

Gallas bersama Thierry Henry “menghina” Nasri dan Benzema sebagai junior yang tak punya rasa hormat kepada seniornya. Nasri bahkan dituduh mengambil kursi Henry di dalam bus tim. Hinaan untuk Nasri pun ditulis dalam biografi Gallas yang ditulis dua tahun lalu. Generasi 1987 itu picik. Tak terima dihina oleh seniornya, Nasri terus menyimpan dendamnya. Pasca kegagalan Prancis di Afrika Selatan dengan sangat memalukan, yang kebetulan Nasri dan Benzema tidak berada dalam skuad. Nasri langsung mengeluarkan kritik pedas (dikutip dari The Sun, Kamis [18 / 11]) “Mereka yang mengatakan saya sebagai bocah kecil picik setelah Piala Eropa 2008 kini sadar bahwa beberapa dari mereka yang dulu bermasalah dengan saya justru tampil buruk dan menjadi biang kegagalan.” “Rasa Hormat harus timbal balik. Saya tidak harus menutup mulut dan bilang amin untuk setiap hal hanya karena saya lebih muda,” lanjut Nasri.

Perseteruan Nasri dengan Gallas kemudian memuncak akhir pekan lalu saat Nasri enggan berjabat tangan dengan Gallas. Sebelumnya selama setahun bermain bersama di Arsenal, Nasri mengaku tak pernah saling bertegur sapa. Selepas pertandingan Gallas tampak berusaha menetralkan suasana antara dirinya dengan Nasri, dengan berujar “Dia masih muda, mungkin emosinya labil. Sangat disayangkan dia melakukan hal itu. Ini tak bagus untuknya.”

Perseteruan ini memang tampak dimulai oleh Gallas, karena dirinya yang meminta dihormati oleh juniornya tanpa mengindahkan bahwa setiap pemain muda juga punya hak untuk berbicara dan bertindak. Seperti kata Nasri, pemain muda tak harus selalu mengiyakan apa yang dikatakan senior mereka dalam tim. Karena pada dasarnya sikap saling hormat itu timbal balik atau dari dua pihak yang berhubungan, yang muda hormat pada yang lebih tua, sebaliknya yang lebih tua harus menghargai keberadaan generasi muda. Komentar Gallas usai pertandingan memang terkesan baik untuk menasehati Nasri, tapi dirinya juga harus berkaca pada ucapannya untuk turut introspeksi dan menstabilkan emosi guna membimbing penerusnya yang masih hijau.

Mari kita belajar dari kisah Nasri dengan Gallas ini. Di manapun anda berada, anda akan selalu bertemu dengan orang yang lebih senior dari anda sekaligus orang yang secara umur lebih muda. Sikap toleransi dan saling menghormati akan membuat kehidupan menjadi lebih indah dan nyaman untuk dijalani.

Sirajudin Hasbi (@Hasbisy)
Aplikasi BaBe

1 comments "belajar dari kisah Nasri dengan Gallas"

[...] This post was mentioned on Twitter by Sepakbola Indonesia and Rizki Prasetyo, suporter indonesia. suporter indonesia said: belajar dari kisah Nasri dengan Gallas http://goo.gl/fb/ThQ18 [...]

Balas

Tweet

Ads

Aplikasi BaBe