Find Other Article...
EMHA : KECANTIKAN SEPAK BOLA #pialadunia

EMHA : KECANTIKAN SEPAK BOLA #pialadunia

Posted by: Sekilas Info Updated at : Jumat, Februari 19, 2010
Sebagian penggemar sepak bola, dengan alasan yang berbeda-beda, menginginkan kesebelasan Brazil menjadi juara. Wajarlah itu. Tetapi apakah s...
Sebagian penggemar sepak bola, dengan alasan yang berbeda-beda, menginginkan kesebelasan Brazil menjadi juara. Wajarlah itu. Tetapi apakah sepak bola cantik belum saatnya menyadari bahwa ia semakin menuju kematiannya? Apakah faktor kecantikan masih akan pernah mampu menjadi substansi utama olah raga dan budaya sepak bola? Apakah hegemoni industri pada peradaban ultra modern sekarang ini masih mengizinkan nilai-nilai yang non-materiil menjadi panglima? Apakah profesionalisme pragmatis masih mengizinkan nilai-nilai non-market berada di garis terdepan dari dialektika pasarnya?

Estetika, art, kecantikan, keindahan - tetap sangat diperlukan manusia semodern apapun - tetapi tidak boleh menjadi dominan. Religiousitas, bahkan agama, juga tetap diperlukan oleh manusia seliberal apapun - tetapi keagamaan hanya boleh menjadi pelengkap penderita, menjadi unsur belaka. Yang penting liberalnya, bukan agamanya. yang lokomotif liberalnya, agama hanya gerbong.

Maka kesebelasan Brazil dan sekaligus kebudayaan masyarakat Brazil benar-benar menghadapi dilema-dilema panjang dalam konteks itu. Keindahan sepakbola Brazil tidak hanya di lapangan, tapi juga dimunculkan dalam setiap sisi kehidupan budaya masyarakatnya yang terkait dengan bola. Budaya masyarakat Brazil bertitik berat pada budaya pesta. Mereka bekerja setahun untuk dihabiskan dalam pesta sebulan. Kalau kita bikin acara 17-an sehari dua hari, mereka sebulan penuh. Pada kejuaran apapun saja asalkan kesebelasan Brazil menang, meskipun baru pada babak awal - masyarakat sudah pasti memenuhi jalanan, kafe-kafe dan tempat apapun saja - bahkan media massa utamanya televisi mendukung semua itu dengan menyuguhkan acara-acara yang seirama.

Sebaliknya kalau ada seseorang tanya kepada Anda berapa skor Brazil melawan X, kemudian Anda menjawab 1:0 untuk X - maka ia akan langsung menangis. Dan kejadian semacam ini sudah sangat sering terjadi sejak kesebelasan sepak bolah indah Pele cs. juara Piala Dunia tahun 1970 mangakhiri kejayaannya. Piala Dunia 1974 ditonggaki oleh gol spektakuler Gerd Muller yang menghancurkan kejayaan total football Johan Cruyff dari Belanda tetangganya.

Sepak bola indah Brazil dikubur oleh fenomena total football,meskipun puncak kreativitas, sepak bola ini kemudian dibentur oleh antiklimaks sistem ultra-defensif Italia yakni catenaccio. Empat tahun demi empat tahun paradigma karakter persepakbolaan terus berkembang dan bergeser: Brazil selalu membayangi sampai hampir ke puncak - tatapi cobalah kita saksikan apakah keindahan masa silam akan sanggup mengungguli profesionalisme total persepakbolaan kontemporer. Yang penting gol! - dengan cara apapun, indah atau tidak, spektakuler atau tidak - yang penting gol. Dan Brazil sekarang benar-benar berada di titik tengah dilema untuk memilih persuasi terhadap sepak bola kontemporer ataukah mempertahankan kepribadian kontemporernya.

Tapi bagaimana mungkin Brazil mempertahankan keBraziliannya dalam sepak bola - kalau kebanyakan pemainnya bermain di Eropa dan sehari-hari menjalankan karakter sepak bola Eropa? Apakah tiba-tiba mereka bisa “menjadi Brazil” kembali dengan hanya kumpul sebulan dua bulan empat tahun sekali? Sebagaimana dalam kesenian, dunia sepak bola juga menawarkan excitement, sebaran rasa penasaran tentang akan muncul fenomena, paradigma, innovasi atau invensi apa lagi?

****************
Emha Ainun Najib
[ad#twitter]
Aplikasi BaBe

1 comments "EMHA : KECANTIKAN SEPAK BOLA #pialadunia"

Attractive component of content. I simply stumbled upon your weblog and in accession capital to claim that I acquire in fact enjoyed account your blog posts. Anyway I'll be subscribing in your feeds or even I success you get admission to persistently fast.

Balas

Tweet

Ads

Aplikasi BaBe